Pesantren dituduh Sarang Radikalisme (Terorisme)

Sempat beredar isu bahwa pesantren adalah tempat berkecambahnya radikalisme. Isu ini bahkan sempat disikapi oleh pemerintah dengan rencana lucu (yang gagal) untuk memeriksa sidik jari para santri pesantren di Indonesia. Belum lagi ditambah dengan kecurigaan dunia Barat – yang dimotori oleh Amerika Serikat pasca Tragedi 11 September – yang secara gencarnya menuduh radikalisme/terorisme, dengan slogan ‘are you with us or with them-terrorist-‘, yang menuding lembaga-lembaga pendidikan tradisional Islam, seperti madrasah dan belakangan juga pesantren dianggap sebagai the breeding ground, tempat perkecambahan radikalisme.

(more…)

Pendaftaran Pesantren Online

memilih-smp

klik untuk melihat slide

Anak adalah harta yang paling berharga. Bahkan, anak bisa menjadi harta yang abadi jika kita sanggup mendidiknya menjadi shaleh. Menyekolahkan anak bukan saja membekalkan pendidikan untuk kehidupan mereka hari ini, tapi untuk masa depan mereka. 10-20 tahun ke depan, mereka akan hidup dalam tantangan yang berbeda dengan realitas hari ini. Tak cukup jika kita hanya memberikan ilmu pengetahuan eksakta dan sosial. Pembekalan spirit dan sikap religius akan membentuk karakter yang kuat dalam menghadapi jebakan hidup.

Pesantren Daarul Uluum, sebuah lembaga pendidikan yang berdiri sejak masa pemerintahan Sukarno adalah salah satu pilihan yang tepat untuk menyekolahkan anak kita. Banyak alumni yang menjadi tokoh masyarakat pada zamannya.

Slide berikut merupakan sedikit cuplikan tentang pendidikan yang akan didapatkan oleh anak-anak kita. Untuk mengetahui lebih jelas tentang sejarah, pendiri, kurikulum, dan sebagainya tentang DU, silakan kunjungi websitenya.

Pesantren Daarul Uluum terdiri dari 2 kampus. Lebih jelas, silakan lihat pada link kedua kampus.

  • Kampus 1 di Bantar Kemang, Kota Bogor
    tingkat pendidikan : MTs dan MA
  • Kampus 2 di Desa Nagrak, Sukaraja, Kabupaten Bogor
    tingkat pendidikan : SMP dan SMA

Anda yang berminat, silakan mengisi formulir PENDAFTARAN ONLINE

PR Bahasa Sunda

pekerjaan-rumahSetiap ada PR Bahasa Sunda, anakku yang kelas 2 dan 4 SD pasti nyerah. Dan selalu saja aku dan istriku ikutan belajar bahasa Sunda. Berempat kami buka-buka kamus bahasa sunda yang kami beli berdasarkan saran guru sekolah. Namun kamus bukanlah solusi yang tepat. Ternyata kamus yang katanya lengkap itu lebih sering tak menemukan kata yang kami cari.

Agak gak enak juga waktu gurunya bilang, saat aku ambil rapot kenaikan yang lalu, “Memang anaknya mau ngomong bahasa inggris pak? Masa nilai bahasa inggrisnya tinggi tapi bahasa sundanya rendah?!” Hm… benar atau tidak apa kata gurunya itu, yo wis… aku nggak mau berdebat.

Aku konsultasi ke tetangga yang sehari-harinya sering kudengar berbahasa Sunda di rumahnya. Lumayan, dari 10 soal, mereka bisa membantu menjawab hanya 2 soal saja. Mereka beralasan, “bahasa Sundanya beda!” Waduh, tambah bingung aku.

Tak kehabisan cara, akupun menulis sms ke beberapa teman. Apa artinya meuli, suhun, dedet, suhan, rarangken, dll… Mereka menjawabnya dengan bahasa indonesia. “Salah, Yah! Isinya bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Sunda juga.” kata anakku. Ternyata perintah gurunya adalah : Eusian ku Bahasa Lemes!

“Alamakjang, bahasa Lemes? Cemana bahasa bisa lemas?” Spontan aku nyeletuk di depan anakku yang menunggu jawaban sambil menggoreskan pensilnya ke kertas gambar. hm… dia malah asyik menggambar wajah orang yang raut mukanya jelek dan terlihat sedang bingung. “Ini gambar ayah, hehehe” duh, dia malah senang ayahnya buntu menjawab. Tapi senang juga digoda oleh anakku yang cantik ini.

Ah, aku kirim sms lagi ke dua temanku. Aku yakin mereka bisa menjawab dengan bahasa lemes. Alhamdulillah, Kang Achoey dan Kang PS, memberikan jawaban yang sama. Selesailah PR-ku, eh PR anakku!

“Ini jawabannya. Tulis ya!” kuberikan sms dari PS dan Achoey.

Anakku tersenyum membaca SMS dari Achoey :

“Meser, Tatih, Geubis. Ayahku pusing, asyik! kata anaknya”

Benar juga isi SMS kang Achoey itu. Bahkan anakku sudah tuntas menggambar wajah ayahnya yang pusing membuka-buka kamus bahasa sunda.

“Selesai, Yah!” Anakku menutup buku tulisnya.

“Ya sudah, simpan di tas, biar besok tak tertinggal.” Saranku.

“Di meja belajar aja, yah. Kan dikumpulkannya bukan besok. Tapi hari Jum’at depan.” Jawabnya enteng.

“Hah????” Ternyata masih seminggu lagi! Hm… dasar bocah! :p

Kelas Menulis dimulai dari Blogdetik

mtuntirtaJika kebanyakan ABG mengisi malam minggunya dengan dating ataupun dugem, tapi tidak untuk ABG yang mengikuti kelas pertama di Kelas Menulis. Mereka mengisi malam minggunya dengan blogging. Acara yang dimulai pukul 20.00 sampai dengan 22.00 WIB itu dibuka dengan panduan ngeblog di blogdetik. Dibantu oleh Ochem, seorang guru TI, saya membuka kelas pertama dengan menjelaskan kenapa KM mesti berbasis blog.

Blog bukan sekedar media baca tulis. Lebih dari itu, blog juga bisa berfungsi sebagai social media. Dengan blog, kita dapat berinteraksi dengan banyak blogger untuk belajar menulis. Peserta bisa belajar tentang ragam tulisan dengan membaca beragam blog. Mau blog yang serius, ada. Yang fun juga ada. Mau belajar menulis cerita pendek, tinggal buka blog yang isinya cerita. Puisi juga banyak. Mau sekedar mengurai perasaan dengan kata-kata, tinggal baca banyak blog yang isinya curhat apa adanya.

Manfaat blogwalking tak hanya memberi banyak wawasan tentang keragaman tulisan, tapi juga menjalin interaksi positif dengan berbagi komentar. Positif ataupun negatif komentar yang ditorehkan para blogwalker, adalah masukan yang bermanfaat bagi pemilik blog.

Dengan berbasis blog, memudahkan saya untuk melihat tulisan peserta kapan saja mereka update. Apalagi dengan fasilitas plugin feedwordpress, untuk menjadikan blog peserta KM sebagai umpan (feed) untuk aggregator blog Kelas Menulis. Tentu dengan adanya plugin ini, memudahkan saya untuk melihat semua blog peserta hanya dengan membuka satu blog saja.

Setelah 1.5 jam mengurai tentang blogging di blogdetik, Kelas Menulis memberikan tugas bagi para peserta untuk mulai menulis. Wajar jika ada pertanyaan, “nulis apa ya, pak?” dari peserta. Namanya juga baru belajar. Dengan enteng saya menjawab, “tulis apa saja, meskipun yang kamu tulis adalah, kamu tak tahu mau menulis apa”.

Pertemuan pertama ini ditutup dengan kesepakatan untuk membedah tulisan para peserta pada pertemuan berikutnya. Peserta mesti menulis sebuah cerita bebas. Sebagai bekal, KM memberikan poin-poin yang akan menjadi alat bedah tulisan :

  • Paragraf
  • Penokohan
  • Konflik
  • Pesan Moral
  • Klimaks
  • Kelugasan berbahasa

Yuuk ngeblog terus… dan slogan kelas menulis kutulis di sini : “Tulis saja, jangan ragu!”

Mau Software Perpustakaan?

pustakasoftware

EqualCore adalah tempat nongkrong aku dan teman-teman yang seminat di bidang IT. Biasanya kalau lagi ngerumpi bareng teman seminat, ada saja ide untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Di sela-sela ngoprek PC, ngecek jaringan, dan memaintenance network dari hotspot yang kami kelola, kami sempatkan pula membuat program perpustakaan.

Sotware ini kami buat lantaran rata-rata teman-temanku punya perpustakaan pribadi/keluarga. Mereka kepingin bisa mendata semua bukunya pakai software agar mudah mengontrol peminjaman buku oleh teman-temannya.

Karena itu, kami buatlah program sederhana yang dalam proses simulasi pre launching, kami kompatibelkan untuk perpustakaan standar di sekolah maupun perpustakaan desa. Sang programmer utama, NQ telah menghabiskan entah berapa puluh cangkir kopi untuk membangun program ini. Belum lagi jika aku memintanya untuk ganti ini ganti itu… biasalah, kan tugasku hanya sebagai quality control :D

Bagi teman-teman yang mau download, silakan sedot di mari! Kami bakal seneng banget jika ada di antara teman2 yang sudi memberi saran untuk peningkatan kualitas software ini.

4 Langkah Menulis

Ketika memberikan pelatihan Go Blog with Blogdetik di SMKN 1 Cibinong, aku meminta peserta menuliskan apapun yang dipikirkannya, meskipun yang ditulis adalah “aku tak tahu apa yang mau kutulis“. Semua peserta menulis dalam waktu singkat: 3 menit saja. Sengaja aku berikan waktu singkat, karena biasanya dalam keadaan terdesak, alam bawah sadar menjadi kekuatan yang tak terduga. Akhirnya, dalam 3 menit, mereka sudah membuat posting-an pertama di blognya masing-masing.

Usai pelatihan, seorang peserta mendekatiku. Ia adalah peserta yang sempat menyatakan diri tak pandai menulis. Namun akhirnya, iapun dapat ngeblog dengan tulisan pertamanya. Ia bertanya tentang cara agar tak kehabisan ide menulis.

Sebenarnya aku tak punya teori untuk menjawab pertanyaannya. Tapi bagaimanapun, sebuah pertanyaan menuntut jawaban. Aku jelaskan saja bagaimana caraku sendiri dalam menulis blog. Hanya 4 poin yang kusampaikan.

1. Teguhkan!

Ide tercetus jika seseorang meneguhkan diri untuk selalu menulis.  Entah terkait atau tidak dengan kecerdasan seseorang, - yang kutahu - orang yang tidak biasa menulis, apalagi yang tidak suka menulis, tak akan menangkap ide dari segala peristiwa yang ada di sekitarnya maupun yang dialaminya. Berbeda bagi seorang penulis, atau siapapun yang memicu, memacu, dan melecutkan dirinya untuk selalu menulis. Orang seperti ini akan cepat menangkap ide. Bahkan tidak jarang mereka tak sempat memikirkan sebuah ide, namun ide itu tercetus begitu saja di kepalanya.

Ketika terjadi konflik antar dua orang karyawan di kantor. Si A hanya mengabarkan kepada teman-temannya tentang kejadian tersebut. Namun si B, menangkap ide lain. Ia menulis tentang masalah pertemanan, hubungan antar pegawai, tenggang rasa, prasangka, prototipe pegawai, raut wajah dan kejujuran, persahabatan, perselingkuhan, dll. Dari sebuah kejadian, si B menghasilkan banyak ide tulisan.

Wajar saja si B memiliki letupan ide yang lebih kaya ketimbang A, karena B terbiasa menulis dan meneguhkan dirinya untuk selalu menulis. Apalagi si B ngeblog, sedang si A cuma “fesbukan” saja.

2. Catat!

Catat letupan ide, sesepele apapun. Ketika meletup sebuah ide di kepala kita, catat! Jangan biarkan letupan ide diingat-ingat saja. Letupan itu itu saya ibaratkan sebuah percikan kembang api. Banyak sekali percikan yang muncul. Kalau hanya diingat-ingat saja tanpa dicatat, dijamin akan terlupakan begitu saja. Terserah mau dicatat di kertas ataupun handset.

Jangan pernah berpikir bahwa ide yang muncul tak berharga. Jangan anggap sepele sebuah ide. Ketika muncul ide menulis tentang seorang teman yang membeli Brem di pasar Beringharjo Jogjakarta, aku langsung mencatat dalam satu kalimat: “Alux nawar nenek penjual brem”. Catatan tersebut adalah pengait ingatan. Aku langsung mencatat nama temanku, yang dilakukannya, dan pihak kedua, yaitu sang nenek. Sekilas, catatan itu amat sepele. Ngapain juga aku nulis tentang teman yang beli brem. Tapi, karena aku tak menganggapnya sepele, maka jadilah sebuah tulisan yang berjudul Sang Nenek yang Tjerdik.

3. Lakukan!

Jika ide sudah tercetus, bahkan sudah dicatat. Tinggal satu hal yang harus dilakukan, yaitu mulailah menulis! Jika boleh diprosentasekan, sebenarnya kekuatan ide itu hanyalah 20% saja. 80% adalah action! Menulis! Dengan sering menulis, sadar atau tidak kita telah belajar meningkatkan kemampuan menulis. Memang ada teori tentang menulis, tapi tetap saja efek teori hanya 20%. Sisanya adalah kesungguhan kita untuk beraksi, melakukan apa yang mestinya dilakukan. Jika anda ingin tetap menulis, atau menjadi seorang penulis, maka menulislah. Menulis adalah mengurai ide yang telah kita catat.

Dalam menulis, jangan terpenjara pada diksi. Dari pada membuang-buang waktu memikirkan kata-kata yang indah, puitis, keren, inkonvensional, mending mengucurkan kata apa adanya. Tulis saja apa adanya dengan bahasa yang paling kita mengerti. Menulis dengan bahasa sendiri biasanya lebih mengalir, lebih lancar, lebih asyik!

4. Membaca!

Yang keempat ini hanya poin tambahan saja. Sebenarnya tiga langkah di atas sudah cukup untuk menempa diri menjadi makhluk Tuhan yang paling sexy gemar menulis.  Tapi sekali lagi, jangan anggap sepele. Dengan membaca, pengetahuan kita akan bertambah. Wawasan menjadi lebih luas. Kepongahan kita akan tereliminasi.

Membaca karya orang lain bukanlah sekedar mempelajari cara menulis, tata bahasa, dan gaya penulisan. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu belajar menyadari perbedaan. Ingat! Bukan hanya anda yang menulis. Bukan hanya anda yang punya opini. Semua orang punya kemampuan dan pemikiran yang berbeda. Dengan membaca, kita bisa “Ngeh” terhadap pluralitas.

Begitulah jawaban saya tentang 4 langkah yang mesti dilakukan jika seseorang mau menjadi penulis ataupun blogger. Terserah bagaimana anda mendefinisikan, yang jelas keduanya sama-sama menulis.

Bukan Sekedar Guru

Anda bekerja? Pasti jawabannya bukan sekedar ya! Ada tambahan, kalau anda selalu sibuk mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan anda, sibuk mengatasi masalah yang timbul dalam melaksanakan pekerjaan tersebut, dan segala macam jawaban yang menunjukan kalau anda adalah bukan orang yang biasa-biasa saja.

Setiap pekerja atau karyawan, dimanapun dia bekerja atau berkarya umumnya ingin dianggap spesial. Bahkan tidak sedikit yang merasa paling spesial, walaupun tidak doyan telur. Tapi bagaimana membuktikan kalau kita memang benar-benar bekerja?

Biasanya manajemen mempunyai perangkat supervisi bagi setiap pekerja ataupun karyawannya. Daftar hadir adalah yang paling standar dari perangkat administrasi karyawan lainnya. Tapi tulisan ini tidak akan membahas administrasi supervisi karyawan. Tulisan ini sekedar menyodorkan cermin bagi kita sendiri sebagai pekerja agar kita bisa meningkatkan performance. Seperti ketika kita bercermin setelah mandi, pasti kita ingin menunjukkan pada dunia performance terbaik hari ini.

Lebih spesifik, tulisan ini akan menapaki dunia pendidikan. Bagaimanapun pendidikan adalah satu moment penting yang mempengaruhi masa depan kita. Dan posisi yang paling penting dan paling sering disorot dalam dunia pendidikan adalah guru. Entah dengan istilah apa anda menyebutnya, ustadz, pengajar, pendidik, dosen, atau apalah, yang pasti saya menyederhanakannya dalam sebutan guru.

Ketika pertama kali anda menyatakan diri bersedia menjadi guru, saat itulah anda telah mempertaruhkan seluruh kehidupan anda menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap jati diri (mental, spiritual, dan intelektual) siswa. Apa yang anda pertaruhkan dalam dunia anda ini? Bakat? Tanpa bakat setiap orang bisa menjadi guru asalkan dia senantiasa memoles diri bagaimana menjadi guru yang mulia. Apakah ijazah? Berapapun nilai akademis anda, tak ada gunanya jika tak terefleksi dalam keseharian dunia anda. Apakah Kreativitas? Kreativitas hanya akan menjadi kesibukan yang melelahkan jika anda tak punya keberanian dan empati dalam membuat blueprint masa depan anak didik anda. Apakah keikhlasan? Keikhlasan hanya akan melahirkan cemoohan jika anda masih saja mengeluhkan beban anda di depan anak didik anda. Apakah penghasilan? Ini merupakan kewajaran yang kadang bisa membuat anda menjadi sangat perhitungan dalam bekerja, sehingga hari-hari anda hanya disibukkan untuk mengejar kelengkapan sertifikasi.

Semua hal di atas anda pertaruhkan dalam menerjunkan diri pada dunia pendidikan. Tapi pernahkah anda merencanakan membuat progress report terutama buat anda sendiri? progress report apapun bentuknya, entah itu matriks, form, ataupun catatan sederhana, sangat penting anda buat, agar anda sendiri dapat menilai pencapaian target yang telah anda agendakan.

Kan sudah ada satpel, buat apa repot-repot bikin report? Jika anda hanya berkonsentrasi pada target administrasi-akademik, satpel memang cukup. Tapi jika anda membutuhkan trigger agar senantiasa fresh dan inovatif dalam bekerja, anda perlu membuat catatan pribadi tentang rencana dan progress anda sendiri. Ini berkaitan dengan concern profesi anda sebagai guru.

Progress report, entah bagaimana bentuknya, paling sederhana adalah diary, sangat berguna ketika anda sudah menjalani tugas mulia ini. Coba saja dalam tiga bulan pertama pelaksanaan tugas anda. Jika anda rutin membuat catatan tentang apa yang anda rencanakan tentang para siswa, anda bisa menilai sendiri apakah tahapan tujuan yang anda tentukan tercapai atau tidak. Lalu pada satu semester, anda perlu menganalisa catatan pribadi tersebut. Ketika anda membacanya, akan terbayang bagaimana sebenarnya anda sendiri, apa yang telah anda perbuat, bermanfaatkah, sia-siakah, atau stagnan? Dari analisa tersebut tentunya anda bisa melakukan perbaikan diri, misalnya, upgrade jati diri anda (mentalitas, spiritualitas & intelektualitas), dan (yang paling realistis) kinerja.

Saya punya seorang sahabat berusia lebih tua dari saya. Dia mengajar di sebuah sekolah orang-orang miskin. Setiap pagi hingga sore dia mengisi dunianya bersama anak-anak didiknya. Ketika selesai bertugas dan kembali ke rumah, dia hanya tidur sebentar lalu merancang sesuatu yang akan diberikan kepada muridnya esok hari. Ini selalu terjadi setiap hari bahkan saat akhir pekan, sebelum mengisi hari libur dengan kegiatan yang disukainya. Saya pernah bertanya padanya, mengapa waktunya dihabiskan untuk anak-anak didik. Dia menyatakan bahwa yang dilakukannya adalah resiko seorang guru. Ketika seseorang menasbihkan dirinya sendiri sebagai guru, maka ia harus rela mengisi dunianya dengan planning, aksi, dan review, atas profesinya tersebut. Ketika saya tanyakan kepada murid-muridnya tentang tanggapan mereka terhadap guru tersebut, jawaban mereka saya simpulkan begini, Guru tersebut bukan merencanakan pelajaran karena pelajarannya sudah sangat terencana dalam satuan pelajaran. Yang dia rencanakan setiap malam adalah suasana fun dalam kelas, mengerti keberagaman sikap dan minat anak-anaknya di kelas, dan update terhadap rencana pengajaran yang telah dibuat sebelumnya. Inilah yang membuatnya begitu dicintai oleh semua muridnya.

Apakah anda benar-benar siap menjadi guru? Jika jawaban anda ya, bahkan bukan sekedar ya, malah guru adalah dunia yang tak dapat anda tinggalkan, berarti anda memang mempunyai seperangkat cara untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan siswa anda.

Tapi jika anda ragu-ragu menjadi guru, apalagi kalau hanya dijadikan sekedar batu loncatan, lebih baik anda meloncat jauh dari dunia pendidikan. Sebab jika anda memaksakan diri untuk terjun di dunia yang menantang ini, anda hanya akan menyiksa diri dengan segala mimpi-mimpi anda di dunia lain. Dunia di luar pendidikan.

Jadi, jika anda memang guru, bekerjalah seperti seorang guru, bukan buruh. Guru adalah pekerjaan berat yang menyenangkan. Bahkan bagi sebagian orang, mereka merasa bukan sekedar bekerja, tapi hidup! Yaitu bekerja dengan cinta, hidupnya memang didedikasikan untuk pendidikan, lelah dan segarnya, sedih dan bahagianya adalah irama yang melingkari hari-harinya.

PR Bikin Teler

3 Minggu ini konsentrasiku menulis sering terganggu dengan “PR” anakku. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR (Pekerjaan Rumah). Bukannya aku tak setuju dengan pemberian PR itu. Tapi dalam kasusku, justru PR bikin aku atau istriku jadi teler. Memang PR berguna buat melatih anak-anak mengulang pelajarannya di rumah. Bahkan beberapa orang tua setuju guru memberinya PR setiap hari, karena jika tak ada PR, maka anaknya tak akan belajar di rumah. Kupikir, ada yang salah dalam memaknai PR.

Dulu, waktu aku dan CR mengelola SDIT, kami punya kebijakan soal PR. Dalam seminggu, murid hanya boleh menerima PR paling banyak 3x dan setiap PR tidak boleh lebih dari 5 soal. Berarti jika ada guru Bahasa Indonesia, Matematika, IPS, yang sudah memberikan PR dalam satu minggu itu, maka guru lain tak boleh menindas murid dengan PR lainnya.

Kebijakan yang kami terapkan, bukan sekedar untuk tidak membebankan murid di rumah. Tapi ada keuntungan lain, yaitu, semua guru bidang studi, selalu menjalin komunikasi tentang pelajaran yang sudah diberikan dan PR yang akan diberikan kepada sebuah kelas. Semua wali kelas, punya tanggung jawab untuk mengecek, guru bidang studi apa saja yang sudah memberikan PR.

Lagi pula dari sisi isi, PR juga harus diperhatikan. Jangan sampai ada PR yang bakalan dikerjakan oleh orang tua si murid. Maksudnya, buatlah PR sesuai dengan apa yang telah dipelajari di kelas. Jangan sekali-kali memberikan PR, namun guru belum pernah mengulas topik tersebut di depan muridnya.

Seperti yang kualami sekarang. Anakku yang kelas 1 SD 4 kali dapat PR, untuk membuat poster ukuran 30×30 cm, lalu poster itu diisi dengan Angka. Yang kedua diisi dengan Alphabet. Yang ketiga dengan Huruf Sambung. Yang keempat menempelkan foto si anak dan diberinya hiasan, sebagai hiasan dinding. Anakku bilang, “Kata bu guru, minta tolong sama Mama!” Akhirnya, ke-4 tugasnya itu, murni: Istriku yang menyelesaikannya.

Belum lagi soal yang tak jelas kebenaran jawabannya. Pernah ada pertanyaan begini:
“Sebelum makan, kita harus …..”
Anakku menjawab soal PR itu : “Sebelum makan, kita harus BERDOA”
Esok harinya, kata anakku jawabannya salah. yang benar, “Sebelum makan, kita harus CUCI TANGAN”

Ini salah satu contoh, guru memberikan soal yang membingungkan. Anak dipaksa untuk menerima jawaban yang kebenarannya ada pada guru. Padahal, kupikir jawaban anakku tak juga salah. Untuk menjawab dengan lengkap, kupikir, seorang anak kelas 1 SD belum sanggup menjawab seperti ini, “Sebelum makan, kita harus CUCI TANGAN DENGAN SABUN, LALU MENYIAPKAN MINUMAN AGAR TAK TERSEDAK, SELANJUTNYA BERDOA”

Guru, dimanakah logikamu?!

boleh tersungging, jangan tersinggung

guru-murid

Sebagai guru tidak jarang kita pernah berhadapan dengan situasi dimana para murid berperilaku yang tak menyenangkan. Bahkan ada juga saatnya murid melakukan pembangkangan. Hal itu tergantung dari sejauh mana murid tersebut menyadari nilai moral terhadap perilakunya sendiri dan bagaimana kita mendalami perkembangan psikis, kecerdasan, dan kecenderungan mereka.

Seorang temanku yang berprofesi sebagai guru pernah bercerita tentang perilaku muridnya di sekolah. Ketika sampai di depan kelas, ia mendapatkan muridnya duduk sambil ngemil di depan pintu kelas. Sebagai guru yang berusaha tak gampang marah, ia mengingatkan bahwa jam pelajaran sudah akan dimulai. Tetapi para murid tetap enggan mengubah posisi, malah mereka merespon dengan kata-kata yang membuat gurunya tersungging. Sang guru masih mencoba mengingatkan dengan bahasa yang sehalus mungkin. Namun respon para murid tak lagi membuatnya tersungging, kini malah tersinggung. Guru itupun pergi meninggalkan para murid di depan kelasnya. Ngambek, kata beberapa siswa.

Temanku bertanya kepada temannya sesama guru, apakah ngambek itu salah? Temannya bukan menjawab, malah bertanya, “Kalau kamu nggak ngambek, apa yang kamu lakukan terhadap mereka?” Temanku yang guru itu menjelaskan pikirannya, ia hampir saja memarahi para siswanya. Bahkan – saking emosinya –, ia bilang “bisa saja ada kursi yang terbang!”. Temannya temanku sesama guru tersenyum dan menasehati agar guru harus memahami psikis pelajarnya.

Psikologi pelajar seperti apa sih? Temanku bertanya kepada temannya sesama guru. ia mendapatkan penjelasan bahwa guru di sekolah ini harus bisa mengikuti kemauan siswanya. Alasannya, karena yang membayar gaji mereka adalah orang tua siswa. Terperanjat ia mendengarnya. Jikalau seorang guru merasa eksistensinya sebagai orang yang “dibayar” lalu selalu menuruti kemauan anak dari pembayar, apa bedanya dengan budak? apa bedanya guru dengan – maaf – penjaja seks komersial? Naif dan menyedihkan!

Temanku minta solusi. Kebetulan saya bukan ahli pendidikan, bukan ahli psikologi, bahkan bukan PSK. Jadi saya tak sanggup mengurai jawaban. Itulah saya, tidak semua masalah bisa saya jawab. Hanya satu hal yang saya yakini sejak dulu ketika saya pernah mengajar : murid senang melakukan apa yang saya inginkan ketika mereka merasakan suasana yang membetahkan dan menyenangkan. Tapi itu, dulu…

Jika anda berposisi sebagai guru yang tersinggung dengan muridnya, seperti teman saya itu, apa yang anda lakukan? Jika anda seperti guru “bayaran”, apa justifikasi anda? Jika anda sebagai siswa? Jika anda sebagai diri sendiri dan diundang untuk mengatasi masalah ini?

Keterangan gambar: seorang guru memanggil muridnya yang bangor maju ke depan saat upacara bendera.guru tersebut hanya menjelaskan letak kesalahannya dan bagaimana mestinya sang murid itu bersikap baik. tidak ada hukuman bersifat fisik maupun perasaan yang diterima murid yang memang terkenal bangor tapi cerdas itu.

Equilibrium

“Kamu guru?”
“Ya!” katanya
“Apa yang kamu ajarkan kepada murid-muridmu?”
“Ilmu eksakta”
“Apa lagi selain eksakta?”
“Tak perlu! Yang penting di dunia ini adalah Eksak. Sehingga orang dapat berpikir realistik!”
“Masa, sih?”
“Pasti kamu bukan orang eksak!”
“Ko, kamu tahu?”
“Aku lebih pengalaman dari kamu.”
“Ilmu-ilmu lain selain eksak tak pentingkah?”
“Kurang penting.”
“Kurang penting bukan berarti harus dinafikan?”
“Kamu bukan orang eksak sih!”
“Apakah kamu suka kesenian?”
“Itu cuma buang waktu saja.”
“Berarti murid-murid kamu tak diajarkan seni?”
“Itu cuma buang waktu saja!”
“Bagaimana kalau mereka belajar seni sendiri?”
“Itu cuma buang waktu saja!!”
“Dengan berkesenian, bukankah kita bisa memahami manusia?”
“Bukan!”
“Dengan ilmu-ilmu sosial, bukankah kita bisa bermasyarakat?”
“Bukan!”
“Bisakah kamu menikmati seni?”
“Percuma, tak penting.”
“Apakah kehidupan ini diciptakan hanya untuk orang-orang eksak?”
“Tidak juga, tapi orang-orang eksaklah yang derajatnya paling tinggi di dunia.”
“Bagaimana menurutmu, si penyair itu?”
“Dia pengkhayal, hidup tak boleh berkhayal. Harus pasti!”
“Bagaimana menurutmu, si pengamen itu?”
“Dia pemalas, tak bisa kerja.”
“Hidup ini ada abstrak dan juga ril. Harus seimbang, kan?”
“Abstrak harus mengikuti yang ril!”
“Juwita setiap hari kirim salam buatmu. Sepertinya ia mencintaimu.”
” … ”
“Kamu mencintainya juga?”
” … ”
“Ya sudah, aku mau pulang dulu. Sampai ketemu besok ya.”
“Ya.”
Brem… brem… (motorku siap meluncur)
“Kirim salam ya buat Juwita!!!”  

Cihideung Forest, 1 September 2005