Equilibrium

“Kamu guru?”
“Ya!” katanya
“Apa yang kamu ajarkan kepada murid-muridmu?”
“Ilmu eksakta”
“Apa lagi selain eksakta?”
“Tak perlu! Yang penting di dunia ini adalah Eksak. Sehingga orang dapat berpikir realistik!”
“Masa, sih?”
“Pasti kamu bukan orang eksak!”
“Ko, kamu tahu?”
“Aku lebih pengalaman dari kamu.”
“Ilmu-ilmu lain selain eksak tak pentingkah?”
“Kurang penting.”
“Kurang penting bukan berarti harus dinafikan?”
“Kamu bukan orang eksak sih!”
“Apakah kamu suka kesenian?”
“Itu cuma buang waktu saja.”
“Berarti murid-murid kamu tak diajarkan seni?”
“Itu cuma buang waktu saja!”
“Bagaimana kalau mereka belajar seni sendiri?”
“Itu cuma buang waktu saja!!”
“Dengan berkesenian, bukankah kita bisa memahami manusia?”
“Bukan!”
“Dengan ilmu-ilmu sosial, bukankah kita bisa bermasyarakat?”
“Bukan!”
“Bisakah kamu menikmati seni?”
“Percuma, tak penting.”
“Apakah kehidupan ini diciptakan hanya untuk orang-orang eksak?”
“Tidak juga, tapi orang-orang eksaklah yang derajatnya paling tinggi di dunia.”
“Bagaimana menurutmu, si penyair itu?”
“Dia pengkhayal, hidup tak boleh berkhayal. Harus pasti!”
“Bagaimana menurutmu, si pengamen itu?”
“Dia pemalas, tak bisa kerja.”
“Hidup ini ada abstrak dan juga ril. Harus seimbang, kan?”
“Abstrak harus mengikuti yang ril!”
“Juwita setiap hari kirim salam buatmu. Sepertinya ia mencintaimu.”
” … ”
“Kamu mencintainya juga?”
” … ”
“Ya sudah, aku mau pulang dulu. Sampai ketemu besok ya.”
“Ya.”
Brem… brem… (motorku siap meluncur)
“Kirim salam ya buat Juwita!!!”  

Cihideung Forest, 1 September 2005

Filterisasi Teknologi Informasi

(Sebuah esai yang tak selesai)

Teknologi informasi adalah perangkat pendukung dalam akselerasi belajar. Dengan memanfaatkan teknologi informasi guru dan siswa dapat melakukan berbagai kegiatan menjelajah ilmu pengetahuan maupun mengasah kreatifitas. Teknologi informasi yang diangkat dalam tulisan ini adalah Internet dan Radio.

Sudah menjadi standar umum bahwa teknologi internet dapat meningkatkan daya jelajah setiap orang dalam mengembangkan pengetahuannya. Selain itu, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi yang cukup murah bila dibandingkan dengan mobile phone. Bahkan dengan internet, komunikasi bisa dilakukan bukan hanya dalam bentuk suara, tapi juga visual. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan teleconference.

Seorang siswa bisa bercengkrama dengan orang tua atau anggota keluarganya dengan memanfaatkan fitur audio video messenger. Memang diperlukan sebuah PC atau Laptop di kedua belah pihak. Tapi mengingat manfaatnya, seperangkat PC ataupun laptop kini sudah menjadi barang biasa dalam sebuah rumah tangga.

Selain untuk berkomunikasi, internet memungkinkan penggunanya membuka berbagai macam informasi yang dibutuhkan. Untuk menyusun sebuah karya ilmiah, seorang siswa dapat dengan mudah mencari bahan-bahan yang relevan, yang beredar di dunia maya. Untuk guru, internet sangat penting keberadaannya sebagai media update pengetahuan dan informasi. Guru yang rajin mengupdate otak dan jiwanya, senantiasa menjadi sumber mata air bagi siswa-siswanya.

Masih banyak manfaat internet yang dapat kita rasakan jika kita langsung mencobanya. Tetapi, bagaimanapun manfaat yang ada pada sebuah benda, tetap saja ada orang-orang yang menyalahgunakannya. Inilah yang perlu diwaspadai oleh setiap diri yang selalu berupaya menjaga integritas nilai spiritual dan intelektual.

Bagaikan berjalan di tengah belantara informasi, ada banyak lubang-lubang jebakan yang jika kita teledor, maka akan terjerembab dalam lubang jahiliyah. Lubang-lubang destruktif itu di antaranya adalah situs-situs deislamisasi pemikiran, demoralisasi budaya, dan yang paling merajalela adalah situs pornografi/pornoaksi. Bagaimana menyikapi lubang-lubang tersebut? Saatnya filterisasi dan supervisi dilakukan.

Radio adalah media sederhana yang dapat membentuk sebuah komunitas. Radio lebih mudah dinikmati ketimbang teknologi informasi lainnya. Selain lebih murah, radio juga dapat menjadi ruang alternatif bagi pencintanya dalam melakukan curhat dan berekspresi. Perlukah sebuah sekolah membangun stasiun radio? Jika kita membutuhkan media murah meriah maka jawabannya adalah perlu. Bagaimana dengan dampak negatifnya? Pahami ilustrasi saya tentang internet di atas, maka kitapun perlu melakukan kontrol terhadap radio yang ada di sekitar kita. Namun bukan berarti kita harus memangkas kreativitas penyiar radio yang bisa berasal dari kalangan guru maupun siswa itu sendiri.

Esai ini saya selesaikan sampai di sini saja karena keterbatasan saya dalam melanjutkannya dalam bentuk tulisan. Lagi pula, sepertinya kita tinggal merancang aksi saja ketimbang terlalu sering corat-coret.

30 Mei 2005

Mendesain Karakter Sekolah

Sekolah adalah tempat para pendidik membentuk karakter siswanya. Sekolah mampu mengubah dan memformat pemikiran dan sikap siswa dalam menjalani kehidupannya. Namun dari banyak sekolah yang ada di negeri ini, cukup banyakkah yang mampu mencetak siswa yang berkarakter? Saya sebut karakter dengan pemahaman bahwa siswa yang diformat oleh sekolah A mesti memiliki karakter berbeda dengan siswa yang dibentuk oleh sekolah B. Namun jika kita melihat hasil pendidikan tidak membuat siswa itu berbeda dengan keluaran sekolah lain, berarti sekolah kita tidak mampu membentuk karakter. Atau bisa juga disebut, sekolah kita tidak memiliki karakter, atau biasa-biasa saja.

Karakter adalah ciri yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Ia bersifat unik  dan distingue. Tentunya saat ini kita bisa membedakan seorang siswa yang dididik oleh sekolah beragama dengan sekolah nasional (negeri). Sekolah-sekolah yang agamis, biasanya mendoktrin siswanya dengan nilai-nilai agama yang sangat mempengaruhi semangat juang dalam setiap kesempatan, terutama dalam ajang perlombaan antar sekolah. Pernah saya berdialog dengan tiga orang siswa sekolah di Jabotabek dalam waktu dan tempat yang berbeda. Yang pertama adalah siswa Sekolah Negeri. Ketika saya tanyakan tentang keyakinannya untuk memenangkan perlombaan, dengan menunduk dia menjawab kalau keikutsertaannya dalam lomba hanya kebetulan saja. Ia sama sekali tak berharap kemenangan, karena baginya yang penting adalah dapat mewakili sekolahnya berpartisipasi dalam lomba tersebut. Jika tidak menang, tambahnya, itu merupakan nasib yang kurang menguntungkan saja. Lagipula, tambahnya, biasanya lomba-lomba seperti ini memang sudah biasa dimenangkan oleh sekolah orang-orang kaya.

Ketika pertanyaan yang sama saya ajukan kepada dua orang siswa sekolah beragama, siswa dari Sekolah Nasrani menjawab kalau dia yakin bisa memenangkan lomba tersebut. Karena secara akademis dia yakin telah menguasai pelajaran yang dilombakan, dan secara ideologis, dia ingin mengharumkan nama sekolah nasraninya sebagai sekolah terbaik dan terbiasa menjuarai lomba-lomba antar sekolah. Singkatnya, siswa tersebut mempunyai mental juara. Bagaimana kalau anda gagal, pertanyaan saya berikutnya. Jawabannya tegas, saya tak mau gagal, akan saya tunjukkan kalau sekolah kami selalu lebih baik dari sekolah lainnya.

Siswa ketiga berasal dari Sekolah Islam. Ia mengikuti lomba ini karena kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya terhadap prestasinya selama ini. Dia berusaha seoptimal mungkin menjadi juara sehingga mampu membuktikan bahwa sekolah Islam adalah sekolah terbaik. Kalaupun dia gagal, mungkin itu bagian dari kelemahannya, dan dia tetap bangga menjadi duta dari sekolahnya. Namun jika dia juara, Allah telah mengamanatkan untuk senantiasa mempertahankan kemenangan dengan peningkatan kualitasnya.

Jelas dari jawaban ketiga siswa tadi, kita dapat meraba karakter setiap peserta. Karakter itu terbentuk karena pendidikan yang setiap hari diterimanya di sekolah. Siswa yang tidak sekedar mendapatkan pendidikan akademik tapi juga pendidikan religius, terlihat lebih percaya diri, lebih yakin, dan bertanggungjawab. Bagaimana dengan siswa sekolah kita?

Untuk membentuk siswa yang berkarakter, kita perlu mengevaluasi dan meng-upgrade beberapa aspek dalam sekolah kita. Aspek tersebut adalah ; 1. Peserta didik, 2. Kurikulum, 3. Guru, 4. Lingkungan.

1.   Peserta didik

      Dalam sebuah permainan puzzle, seseorang mencoba merangkai satu demi satu bagian puzzle tersebut. Dia berusaha keras merangkai kepingan demi kepingan dengan tujuan terbentuknya satu model atau gambar yang utuh. Berjam-jam ia belum juga dapat menyelesaikan mainan walau sudah terbayang dalam pikirannya, gambar apa yang akan tercipta dari kepingan puzzle tersebut. Makin lama iapun berdiri dan meninggalkan mainannya. Ia bilang, walaupun tak berhasil membentuk gambar yang semestinya, paling tidak ia telah berusaha dan dia menikmati usaha yang telah dilakukannya. Ia berpikir, yang penting usahanya, bukan hasilnya.

      Wajar saja ia tak mencapai hasil yang diharapkannya karena sebenarnya ia sendiri tak tahu gambar apa yang akan terbentuk jika puzzle itu bisa ia selesaikan. Ia sama sekali tak pernah mau melihat contoh gambar yang menjadi tujuan puzzle tersebut. Padahal dia memiliki selembar kecil gambar utuh dari permainan tersebut. Jika dia mau melihat dan membandingkan antara gambar yang menjadi target dengan kepingan-kepingan yang dia rakit, saya yakin dia bisa menyelesaikannya dengan baik.

      Terhadap peserta didik. Jika diibaratkan sebagai kepingan puzzle, target apakah yang akan kita rangkai? Ini pertanyaan sederhana yang sering dilupakan para pendidik. Beberapa orang guru yang pernah saya ajak bercengkrama bahkan sama sekali tak bisa menjawab ketika saya bertanya, mau dibentuk seperti apa anak didik anda? Mau dijadikan apa mereka? Pertanyaan ini saya lontarkan karena saya tak mau kita hanya menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk merangkai puzzle yang tak pernah kita tahu bentuk finalnya. Setiap guru harus memahami master plan dari pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. Master plan itulah yang menjadi visi dan misi sekolah. Dan seperti merangkai puzzle, guru harus melakukan evaluasi, apakah pekerjaannya telah sesuai dengan target-target yang merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan utama.

      Jadi, apakah sekolah anda memiliki master plan? Bagaimana anda menjelaskan master plan tersebut kepada semua tenaga pendidik di sekolah? Inilah yang harus diuraikan dalam aspek kedua, kurikulum.

2.   Kurikulum

      Apa yang harus dicapai oleh peserta didik tertuang dalam kurikulum. Pemerintah telah menetapkan kurikulum nasional yang merupakan upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Walaupun masih bersifat abstrak, setiap sekolah berkewajiban menginterpretasikan dan mengkonkretkan kurikulum pendidikan nasional sesuai dengan kecerdasannya masing-masing.

      Kurikulum merupakan perangkat utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum juga didesain sebagai upaya untuk mencapai visi dan misi sekolah. Karena itu penyusunan kurikulum harus senantiasa berkiblat kepada visi sekolah. Pemerintah telah berbaik hati untuk membebaskan setiap sekolah menyempurnakan kurikulumnya dengan terma muatan lokal. Para analis pendidikan yang ekstrim bahkan menilai kebijakan pemerintah dalam mensosialisasikan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan ketidakmampuan pemerintah dalam membuat kurikulum nasional yang lebih konkret. Tapi terlepas dari berbagai anggapan, manajemen berbasis sekolah adalah ruang bebas untuk memodifikasi kurikulum nasional dengan kurikulum khas sekolah. Tinggal bagaimana sekolah mampu merancang kurikulum yang mudah dipahami dan dilaksanakan oleh agen pendidikannya, yaitu guru sebagai agent of change.

3.   Guru

      Guru adalah agent of change, orang yang bertanggungjawab dalam menciptakan perubahan. Setiap siswa yang ditangani oleh guru, mesti mengalami perubahan dari karakter lama kepada karakter baru sebagai orang yang terdidik.

      Kita harus insyafi bahwa peserta didik adalah titipan orang tua yang tidak seperti botol kosong. Mereka diserahkan kepada guru dengan segala kepribadian dan masalah multidimensional. Kepribadian dan masalah ini tentunya terbentuk dari lingkungan sebelum peserta didik tersebut masuk dalam lingkungan sekolah kita. Sebagai agent of change, guru berusaha mengubah realitas kini (siswa dengan segala kondisi yang dipengaruhi latar belakangnya) menjadi realitas baru, ketika siswa telah mengenyam pendidikan beberapa tahun.

      Ada dua wawasan yang harus dimiliki oleh agent of change. Pertama adalah sense of belonging. Guru harus punya rasa memiliki baik terhadap sekolah, terutama terhadap anak didiknya. Apapun yang akan terjadi pada anak didiknya, ia akan menyikapinya seperti ia menyikapi dirinya sendiri. Seperti kemanunggalan anggota badan, guru selalu berupaya merasakan sesuatu yang dirasakan oleh anak didiknya. Rasa memiliki ini akan terwujud pada wawasan kedua, sense of responsibility. Guru bertanggungjawab atas perubahan yang terjadi pada anak didiknya. Apakah perubahan itu bersifat destruktif atau konstruktif, guru senantiasa siap dengan cahaya yang menerangi dan lautan hikmah yang menyejukan bagi anak didiknya.

      Tantangan bagi agent of change sudah kita maklumi. Selain permasalahan latar belakang keluarga, dimana anak didik mendapatkan kebiasaan lazim dan persepsi orang tuanya, mereka juga memiliki latar belakang masalah secara sosial dan global. Latar belakang sosial sangat mempengaruhi perilaku siswa. Pola pergaulan, persepsi masyarakat tempatnya berinteraksi merupakan hal penting yang harus dianalisis. Selain itu efek global dari teknologi informasi juga hal penting yang harus dikaji oleh guru. Kita telah paham bagaimana kehebatan media televisi dan internet dalam mengubah budaya anak-anak kita. Inilah tantangan yang dihadapi oleh guru sebagai agent of change.

4.   Lingkungan

      Berangkat dari pemahaman akan latar belakang siswa, sekolah harus mendesain tata sosial baru bagi semua anggota komunitas pendidikan. Tata sosial ini sangat penting mengingat format yang telah dibentuk oleh latar belakang siswa sebelum memasuki sekolah ini. Lingkungan yang harus dibentuk oleh sekolah merupakan sebuah sistem dalam menerapkan kurikulum pendidikan dan pencapaian visi.

      Manajemen sekolah adalah pengendali bahtera sekolah. Kebijakan yang dibuat oleh manajemen sangat menentukan perjalanan sekolah tersebut. Dalam satu kasus, manajemen sekolah harus menyusun kebijakan yang mudah dipahami oleh semua anggota komunitas sekolah, mulai dari guru, karyawan, hingga siswa. Tidak jarang terjadinya misunderstanding, bukan karena murni pelanggaran, tetapi karena ketidakpahaman dalam mencerna arti sebenarnya dari sebuah kebijakan.

      Misal, seorang guru yang diberikan tanggung jawab menangani beberapa siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler kurang ekspresif dalam bekerja. Penyebabnya adalah karena guru tersebut tidak memahami job description yang menggunakan istilah yang terlalu umum dan multi interpretasi, tidak memakai istilah yang spesifik dan atau konkret. Begitupun dalam menyusun peraturan. Kesimpulannya, apapun kebijakan yang diciptakan oleh manajemen, usahakan agar menggunakan istilah yang spesifik bahkan bila perlu sangat teknis.

      Seperti ketika kita membuka perangkat elektronik baru, untuk mengoperasikannya kita butuh manual book. Bayangkan bila manual book tersebut tidak mudah dipahami. Mungkin saja alat baru tersebut bisa beroperasi normal, dan bisa jadi justru abnormal.

      Bahkan kebijakan tersebut harus mencakup pada urusan anggaran sekolah, sarana dan prasarana, serta yang paling penting adalah panduan membentuk keluarga dalam lingkungan sekolah. Yang terakhir ini biasanya diterapkan pada sekolah berasrama.

sekolah adalah sebuah sistem dan setiap komponen dari sistem mesti bekerja sesuai dengan fungsinya hingga dapat dikatakan berjalan. Jika kita mampu mendesain system sekolah sesuai dengan master plan yang telah dipahami, insya Allah, sekolah kita memiliki karakter yang khas. Sehingga, ketika lulusan sekolah ini berinteraksi pada dunia barunya, orang-orang mampu merasakan karakter yang benar-benar jelas dan pasti. Karena itu, mulailah dengan memahami gambar apa yang akan kita buat dari rangkaian puzzle di sekitar kita.

Elok, 30 Mei 2005

Pelajaran Bahasa jadi lebih Berguna

Majalah dinding kurang efektif dalam menyampaikan informasi tentang dinamika dan kreativitas sekolah. Memang mading lebih murah ketimbang mencetak newsletter. Namun dari sisi kreativitas, pembuatan mading tidak membutuhkan skill jurnalistik yang agak fokus. Jika membuat newsletter, siswa akan tertantang untuk bekerja secara tim, menggagas lay out newsletter, menguasai komputer grafis dan publishing, wawancara, mengelupas bahan pustaka baik tercetak maupun digital, dan lebih terasa kerjanya, seriusnya, resikonya, dan kenikmatannya.

Dengan adanya news letter, informasi bisa lebih dipertanggungjawabkan karena data lebih lama beredar dan terekam dalam ingatan. Selain itu data tidak sulit dicari saat dibutuhkan sebagai referensi.

Ada beberapa hal yang secara langsung maupun tidak, akan diajarkan dan dikuasai oleh team jurnalistik sekolah (newsletter maker), yaitu kemampuan manajemen penerbitan, keterampilan bahasa (Indonesia, Arab, Inggris : jika newsletter juga menyertakan sosialisasi tiga bahasa), keterampilan komputer publishing dan grafis, keterampilan advertising, percetakan, dan pemasaran.

Gara-gara pernah mengalami jadi guru bahasa Indonesia, aku jadi teringat akan target yang pernah kurintis untuk siswa-siswaku dulu. Ya seperti ini. Pelajaran jadi lebih berguna untuk kehidupan mereka, tidak hanya mengendap dalam kepala.

Being Happy and Fresh

Saya memaksakan diri membuat judul demikian. Bukan sok berbahasa Inggris, bukan pula biar dianggap rada intelek sedikit dengan berbule-ria. Judul tersebut tercetus begitu saja ketika melihat realitas pendidikan di negeri yang sedang mengharapkan datangnya pemimpin yang benar-benar peduli terhadap pendidikan. Tak tahu siapa yang bakal terpilih sebagai presiden, yang jelas bukan pada kolom ini pembahasannya.

Tulisan ini akan menyampaikan sedikit trik yang dilakukan oleh pendidik yang menjadi guru favorit bagi siswanya. Bisa jadi trik ini sudah diketahui oleh sebagian besar pendidik yang ada di sini. Terutama mereka yang gemar membaca literatur populer tentang pendidikan. Namun tak ada salahnya saya mengingatkan kembali, sekedar untuk menyegarkan kembali ingatan kita akan pentingnya pembentukan suasana dalam proses belajar mengajar.

Koq, membentuk suasana, sih? Bukankah yang akan kita bentuk adalah watak manusia yang berpredikat siswa? Apalagi yang harus diperbuat oleh pendidik terhadap siswanya? Memang sebagai guru anda mungkin sudah terlalu lelah untuk menyiapkan mulai dari program pembelajaran hingga rencana pengajaran. Saat para siswa sedang asyik liburan, anda sedang sibuk menyusun apa yang akan anda sajikan untuk mereka sesuai dengan spesialisasi anda. Sepertinya repot sekali menjadi guru sekarang ini. Tidak seperti guru-guru kita saat kecil dulu, yang sepertinya sekedar memberikan perintah untuk membuka bab IV halaman 68 lalu memberikan tugas meringkas dan pekerjaan rumah. Bagi yang pernah mengalami gaya pendidikan seperti itu, tak perlu meremehkan guru masa lalu kita. Toh mereka telah berbuat pada zaman yang pas untuk mereka. Kini kitapun harus berbuat yang pas untuk zaman kita, karena itulah cara mengajar atau gaya mendidiknya berbeda. Anggap saja ini merupakan tuntutan zaman yang terus bergerak pada dinamikanya.

Kembali pada suasana. Hari pertama mengajar, anda dihadapkan pada puluhan siswa yang baru saja menikmati masa liburnya. Bisa jadi ada yang memiliki pengalaman menyenangkan, menyedihkan, bahkan bisa jadi pengalaman traumatik. Keberagaman pengalaman ini adalah suasana kelas yang harus anda hadapi pada minggu-minggu awal kegiatan belajar mengajar. Bagaimana jika mereka mampu menciptakan “suasana pertama” bagi anda? Dan bagaimana pula jika sebaliknya, anda yang menciptakan “suasana baru” bagi mereka! Tentunya seisi kelas menginginkan suasana yang menyenangkan dan berkesan. Nah, anda adalah guru, dan andalah yang mengkomposisikan keragaman

pengalaman siswa anda menjadi suasana yang terbaik. Being happy and fresh! Tapi bukan berarti harus membuka kelas dengan rujak buah yang segar… lagi pula penciptaan suasana tersebut bukan hanya pada minggu-minggu awal kegiatan belajar mengajar. Sebisa-mungkin ciptakan suasana baru setiap hari anda mengajar. Nah lho! Berat sekali rasanya. Tapi tidak bagi mereka yang mencintai siswa dan kelasnya.

Setiap hari, setiap masuk kelas, ciptakan suasana menyenangkan dan segar. Kegiatan ini dapat menjadikan anda guru yang kreatif dan menyenangkan. Misalnya anda membuka pagi dengan sebuah kejutan berupa quiz, teka-teki, atau permainan (tentunya yang berhubungan dengan spesifikasi anda). Seorang guru bahasa Indonesia bisa saja membuka kelas dengan membacakan naskah cerpen yang segar, berdeklamasi, atau membuat permainan kartu merangkai paragraf. Guru matematika bisa saja membuka kelas dengan tebak-tebakan soal matematika dengan bahan cerita yang menarik. Guru iptek bisa saja membuka kelas dengan mendiskusikan sebuah virus baru yang ditemukannya dalam komputer sekolah. Guru bahasa Inggris bisa saja membuka kelas dengan nasyid remaja yang rada nge-rap dalam englih version. Atau bisa saja seorang guru menceritakan anekdot segar dan merangsang otak atau bisa saja menunjuk salah seorang siswanya untuk membantu memperagakan sebuah permainan baru yang anda ciptakan sendiri. Atau tiba-tiba saja anda mengajak semua siswa keluar kelas beberapa menit untuk mengendurkan otot dan syaraf mereka. Toh, anda kini sudah terbiasa dengan kreativitas yang segar dan menyenangkan. Intinya, targetkan bahwa siswa anda betah berlama-lama dalam kelas anda! Jika anda bisa membuat siswa anda betah berhadapan dengan performance anda, jangan salahkan mereka kalau mereka selalu menantikan kehadiran anda tepat pada jam pelajaran anda. Karena mereka selalu rindu dengan guru yang segar dan menyenangkan! Jika mereka sudah demikian, saya yakin target pembelajaran yang anda rencanakan bisa lebih mudah dicapai.

Saya rasa sekarang anda mengerti kenapa saya menjudulkan fast-writing ini “Being Happy and Fresh!”. Mohon maaf kalau bahasa Inggrisnya salah, toh saya juga sedang belajar kreatif. Dan kesalahan membuat saya mengetahui kebenarannya. Karena anda adalah guru saya!