Published on January 28, 2012 by MT
Ekspedisi Walisongo yang pernah kami lakukan adalah pengalaman perjalanan yang tiada membosankan. Selalu ingin kembali melakukannya. Bahkan ketika sudah kutuliskan dalam sebentuk buku, tetap saja kerinduan untuk melakukan perjalanan tersebut masih ada. Berikut adalah galeri foto saat aku dan tim ekspedisi walisongo melakukannya. we did it! (more…)
Published on January 28, 2012 by MT
Dalam perjalanan kadang aku memotret apa pun yang menurutku menarik. Tetapi boleh jadi menurut orang lain biasa saja. Nah, apa yang kupotret, kusimpan dan tayangkan dalam galeri Sliweran Jalan. Semoga menginspirasi teman-teman! (more…)
Published on January 22, 2012 by MT
Dalam persliweranku di jalan, aku sering menemukan kenyataan tentang geliat rakyat Indonesia. Semalas apapun mereka -seperti yang kerap dituduhkan para pengusaha sukses yang tak kenal mereka- aku melihatnya berbeda. Rakyat Indonesia di mataku adalah orang-orang yang tak pernah berhenti menggeliat. Mereka melakukan apa pun demi hidupnya. Memang kadang mereka melakukan yang tak seharusnya dilakukan. Tapi itu semua terjadi karena mereka harus memilih begitu. (more…)
Published on November 13, 2011 by MT
Melihat kerumunan anak-anak, aku tertarik untuk mendekatinya. Ternyata seorang bapak tua penjual es. Aku kira es biasa. Setelah melihat dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ingatanku melintas ke masa lalu, masa ketika aku masih SD. (more…)
5 Comments, Filed under:
Potret Tags:
antre,
batok kelapa,
es,
es batok,
jajanan SD,
kecil,
kenangan,
sekolah,
sirop,
tukang es
Published on August 4, 2011 by MT
Masihkah pedagang Gulali berkeliling di sekitar rumah Anda? Ya, bagi yang tinggal di tengah kota metropolitan, memang jarang banget menemukan sosok pedagang gulali. Tapi yang tinggal di daerah pinggiran, apalagi di kampung seperti saya, pedagang gulali masih bertebaran.
Gulali adalah jajanan bocah yang berbahan gula yang diberi pewarna. Yang menjadi daya tarik bagi anak-anak bukanlah rasa manis gulali tersebut, melainkan bentuknya yang bisa dipesan sesuai selera. Ya, pedagang gulali harus memiliki keterampilan memilin adonan gula sesuai dengan request pelanggannya. Ada yang pesan pesawat tempur, helicopter, mobil, ipin, upin, naruto, bahkan ada juga yang minta dibuatkan naga. Pedagang yang kreatif, pantang menolak request loyal customer.

Seperti pedagang gulali yang aku potret di depan masjid ini. Ia sedang menerima request dari seorang bocah, sebuah permen gulali berbentuk seekor naga.
Begitulah pedagang gulali. Pelayanan terhadap pelanggan menjadi nyawa usahanya. Kreatifitas dan inovasi dalam mencipta bentuk kontemporer menjadi daya tarik bagi para pelanggannya. Perusahaan besar mestinya mau belajar dari pedagang kecil seperti penjaja gulali ini. Terutama perusahaan yang hanya menebar janji dan promosi dengan jebakan betmen.
Bagaimana dengan birokrat dan partai politik? Semoga saja mereka bisa lebih mulia ketimbang pengusaha kecil pejalan kaki.
Published on May 9, 2011 by MT
Bigs, namanya. Sengaja kusamarkan nama aslinya. Mengungkapkan pengakuan jujur sebagai seorang mantan pemakai narkoba. Ia memakai narkoba cukup lama, 12 tahun. Tepatnya sejak kelas 1 SMP. Pengaruh pertama adalah dari teman-teman sekelas. Agar diakui dalam pergaulan, “Biar nggak dibilang cupu” katanya. “Tapi nyatanya, setelah pakai, tetap cupu juga! Malah tambah kacau, sekolah malas… kerja malas… keluarga hancur, bahkan setelah menikah, mertua memaksa agar saya menceraikan istri saya karena tak sudi punya menantu pemakai” Demikian sesalnya.
(more…)
Published on January 1, 2010 by MT

Sering kali kehidupan tak memberikan apa yang kita inginkan. Tetapi, tak jarang pula kehidupan memberikan apa yang tak kita minta. Satu waktu, begitu mudahnya apa yang kita panjatkan terkabulkan. Tapi di waktu yang lain, sulitnya tak tertanggungkan, meski kita sudah “membanting-banting tulang”.
Kehidupan yang kita jalani memang tak ubahnya seperti roda berputar ; kadang kita berada di atas, kadang berada di bawah. Setiap orang pasti mengalami situasi semacam ini ; ada yang bisa menjalani dan melewatinya dengan wajar dan bermartabat, tapi tak sedikit pula yang terpental dan melewatinya dengan cara yang “tidak wajar” karena memilih jalan pintas.
Buku GURU KEHIDUPAN berisi kisah orang-orang yang bisa keluar dari kepungan kesulitan hidup, dengan cara yang wajar dan terhormat. Siapakah mereka? Ah… kebanyakan dari mereka ternyata adalah orang-orang yang sehari-harinya dililit kesulitan. Ada tukang bajigur, pengamen, office boy, dan lainnya. Koq bisa, mereka bertahan dan hidup terhormat di tengah keterbatasan tersebut, padahal godaan untuk menempuh jalan pintas seringkali menghampiri.
Rahasia keberhasilan mereka menjadi sosok yang tegar dalam menghadapi kesulitan hidup inilah yang dikisahkan buku ini. Dari kisah mereka, kita bisa belajar tentang bagaimana bisa hidup kaya dan terhormat di tengah lilitan kekurangan ekonomi. Mereka patut diteladani meski cuma orang biasa. Karena mereka adalah guru yang sesungguhnya : Guru Kehidupan.
Tersedia tengah Januari 2010 di Gramedia dan toko buku lainnya.
Published on August 7, 2009 by MT
Inilah karya WS. Rendra. Dibacakan di Kampus ITB tahun 1977. Sebuah puisi yang saat itu DILARANG dibacakan oleh Pemerintah Endonesya. Sebuah potret pembangunan dalam sebentuk puisi. Selamat jalan Rendra! Kau telah menjalankan kehidupan dengan keikhlasan. Kaulah guru dari banyak orang di negeri ini…

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977
ITB Bandung
Published on July 25, 2009 by MT

Saung yang terpampang di awal tulisan ini adalah salah satu indikator dari rumah impianku. Rumah yang kutempati selama lebih dari 4 tahun. Rumah kami berdiri di atas tanah seluas lebih dari 500 M2. Sedangkan luas bangunannya hanya 200 M2. Sisanya adalah hamparan tanah berumput hijau. Di area sebelah kanan, kutanam jajaran pohon pisang. Di antara pohon pisang itu, pohon singkong, mangga, dan kelapa hijau, memagari sepanjang pinggiran lembah ini. Ya, rumahku berada di sebuah lembah di antara dua bukit. Di bawah rumahku, ada sebuah danau dan musholla kecil.
Setiap pagi aku menikmati indahnya lingkungan rumahku di tengah hutan Cihideung, Anyer. Dari saung yang kubangun tepat di depan rumahku. Bagiku, keberadaan saung amat penting. Di saung itulah aku menikmati hari-hari. Pagi, kujadikan tempat untuk menikmati sejuknya udara dan teh manis. Siang hari, kadang kujadikan tempat makan siang bersama istri dan anak-anakku. Sore hari, aku bercengkrama di situ. Kadang malampun kujadikan saung itu sebagai tempat berkumpul bersama teman-teman penghuni hutan. Kesederhanaan dan keakraban tercermin dari saung itu.
Tapi rumah impian itu kini tak lagi kutempati. Rumah dan saung itu tinggal menyisakan kerinduan. Dalam lamunan, selalu kuimpikan rumah dengan sebuah saung di depannya, untuk menikmati keindahan lingkungan sekitar. Aku masih bermimpi tentang rumah seperti itu. Dimanakah kudapatkan?
Mencari rumah impian saat ini tidak sulit. Asalkan kita punya tabungan yang cukup, mudah saja. Tinggal buka saja media informasi properti. Salah satu yang memudahkan kita untuk mencari rumah atau tempat tinggal impian adalah propertykita.com. Mulai dari rumah tinggal, apartemen, ruang usaha, atau bahkan jika hanya ingin mencari tanah, bisa dengan cepat kita dapatkan. Fasilitas pencarian di website propertykita.com semakin memudahkan. Beberapa field pada form pencarian semakin mendekatkan kita pada target impian.

Kembali aku teringat pada rumah impian yang kutinggalkan sekitar 7 bulan yang lalu. Sebuah rumah yang menyatu dengan alam. Sebuah rumah yang menyiratkan kesederhanaan dan keakraban. Insya Allah, aku akan kembali menempati rumah seperti itu, mesti tidak di sana. Tapi di kota lain yang memungkinkan aku dapat beristirahat dengan tenang dan damai bersama keluarga.
ket. foto : Saung at night by MT | capture from propertykita.com
Published on March 30, 2009 by MT
Dari tempatku duduk di KRL jurusan Kota-Bekasi, aku memperhatikannya. Ia menyanyikan lagu-lagu lama yang masih tetap enak didengar. Kereta ini masih belum beranjak dari Stasiun Kota. Aku sempatkan untuk menyapanya setelah ia selesai menunaikan tugasnya.
Namanya Mulia. Mungkin ejaannya pakai Y, jadinya Mulya, tapi aku rasa tak berbeda maknanya. Mau pakai huruf I atau Y, tetap saja pekerjaannya mulia. Sejak kecil ia belajar bernyanyi dan bermain gitar atau ukulele. Beberapa temannya ada yang belajar memijat, drums, organ tunggal, dan apapun yang dapat dijadikan “alat” untuk mencari nafkah.
Ia sudah hapal betul berapa jumlah gerbong kereta listrik Kota-Bekasi yang merupakan lahan nafkahnya. Tanpa penglihatan, ia tetap bersemangat bekerja layaknya mereka yang dapat melihat. Bahkan teman-teman kita yang secara fisik lebih menguntungkan, banyak yang mengambil jalan pintas untuk mencari uang. Ada yang mengemis, merampas, bahkan mencuri ataupun korupsi.
Para petinggi negeri ini, mereka yang mempunyai kedudukan yang terhormat, seperti anggota legislatif, anggota kabinet, ada yang memanfaatkan kenormalan inderanya untuk mengelabui rakyat demi Rupiah. Bahkan ada yang tega mencuri hasil jerih parah rakyat.
Mulia sering dipalak preman kereta. Bahkan kantong uangnya pernah dirampas. Padahal itu merupakan penghasilannya. Uang itu dirogoh paksa dari kantong permen tempatnya menyimpan belas kasihan pendengar yang sesungguhnya. “Sedih, dong mas?” komentarku setelah mendengar kisahnya. “Semoga perilaku preman itu tak terulang”, jawabnya sambil tersenyum dan melangkah ke gerbong berikutnya.
{MT dari KRL Jakarta Kota menuju Pondok Kopi…}