Puisi Untukmu

Sebuah puisi yang ditulis MT di Cihideung Forest 15 Juni 2006. Catatan tentang pertemanan yang rapuh, kesetiaan yang luruh, dan nalar yang lumpuh. (more…)

Bintang Malam

bintang malam by selfyparkitdotcom

Dalam hidup, ada cinta yang tak selalu berisi birahi.

Cinta yang tulus, meskipun tak selalu bertaut dalam lingkaran putih.

Terjaga

Transenden (more…)

Puisi Hipokrit

Kali ini aku menampilkan kembali puisi yang kutemukan dalam buku kumpulan puisiku. Bisa jadi dipicu oleh beberapa fenomena politik di negeri ini yang belum juga melepas kedok reformasi. (more…)

Lagu Terakhir untuk dBlogger

Langit kita lebih luas dari kepala kita
Bumi kita lebih luas dari gerak kita
Selama ini kita hanya berteduh pada sebuah payung
Selama ini kita hanya bergerak dalam sebuah ruang

Kita ibarat anak-anak yang bergandengan tangan
Bernyanyi bersama tentang segala yang disuka
Menari bersama bersuka cita
Nyanyian dan tarian menyatukan keberagaman

Jika kita ingin lebih terbuka, buang saja payung itu
Biarkan langit memayungi kita bersama
Jika ruangan ini semakin terasa sempit, bongkar saja!
Tanpa sekat, gerak kita makin meluas-bumi

Ketika kita terbang melayang di langit
Lihatlah, betapa banyak payung-payung di bawah sana
Bergerak bersamaan menjadi jalinan warna-warni
Menciptakan pemandangan indah dan harmoni

Sudahlah, kawan!
Jika kau tak suka dengan payung ini
Belilah payung baru
Atau pakailah payung lain yang berserakan di sana

Setiap orang bisa merasakan sendiri kenyamanannya
Setiap orang bisa merasakan sendiri kesempitan-hatinya
Setiap orang bisa memutuskan sendiri mau kemana
Jadi tak perlu merendahkan sesama kita

MT

Pada Sebaris Kata

sudahlah
terlalu banyak kata
yang keluar dari mulutmu
menuding mereka yang sepertinya hina
memvonis mereka yang sepertinya terlaknat

sudahlah
kata-kata yang kau sebar
meremangkan hati mereka yang gusar
sumpah serapah yang kau tebar
menggelapkan cahaya yang mulai berbinar

hanya pada kata
kau merasa segalanya
hanya pada kata
kau merasa maha kata

tundukkan hatimu sekali saja
pada sebaris kata :
Tuhan kita satu dan langit kita sama

Bogor, 21 Feb 2011

Orde Stagnasi

Kembali kulangkahi jalan ini
Masih berdebu, masih kelabu
Lentera padam, nurani kelam
Kampungku masih seperti dulu

Pepohonan penuh dengan coretan tangan
Syair cinta pujangga desa, memohon ampun pada wanita
Sajak-sajak proletar, memaki penguasa dengan kata-kata
Puisi sunyi gadis malam, memabukkan jejaka dalam khayalnya

Tertegun aku membaca semua
Mencoba maknai apa adanya
Ah…, ini hanyalah kata-kata
Yang menguap entah kemana
Penyabiknya saja tak bisa berbuat apa-apa
Untuk memenuhi khayalan semata

Terus kutapaki jalan ini
Kumpulan buruh memeras peluh
Mengubah nasib yang kian keruh
Tak kenal tangis dan mengeluh
Tembok pabrik menjadi kanvas jalanan
Ungkapkan harapan dan kekecewaan
Lukisan nasib kaum pinggiran
Selalu tertipu tak pernah melawan

Aku sampai pada sumur tua
Yang tak pernah disentuh generasi muda
Kumangkukkan telapak tanganku
Meneguk air pelepas dahaga
Dinginnya segarkan kepala
Sejuknya cerahkan karsa

Cihideung Forest, 25 Agustus 2004

Negeri Purbadewa

izanagi_izanami

malam di sini, ciptakan tawa
malam di sana, ciptakan tangis
kembali cerita lama dilantunkan
dalam sebuah nada kuno yang membosankan

kaum oportunis mengumbar rahasia
tenggelamkan wajah tuannya
yang sedang menangisi tahta
lembaran fakta mulai diungkapkan

kemana saja mereka saat masih menjilati pantat tuannya?
Satu persatu mereka maju membawa kebenaran
Pahlawan kesiangan sibuk mencari harapan
Agar mendapatkan perhatian
Di haribaan raja baru yang suka berdendang

Aku muak melihat fenomena ini
Yang selalu saja berulang, kala sang raja baru datang
Raja lama ditinggalkan dan dicampakkan
Padahal setali tiga uang

Cerita hari-hari negeri purbadewa
Dunia penuh syakwasangka
Kekuasaan menjadi terkaman angkara murka
Kaum proletar tak lagi ada yang disapa

Muntah!!!
Muntahan mereka menggenangi kota
Mengalir membusuki jantung desa

puisi lamaku yang terserak
Pondok kopi, 24 September 2004

Melebur Malam

purnama

pada batu kubersimpuh

pada air sungai kumenatap

(more…)

Kosong

Melasti,

mengenyahkan noda pada kehidupan yang telah kujalani

Menepi,

Menyepikan diri dari keriuhan yang menghanyutkanku dalam semu

Menyepi,

Menjalin keterikatanku pada Tuhan, sesama, dan semesta

Membirukan api amarah menjadi api yang menentramkan hati

Kembali,

Menjalani hidup dan mencipta kedamaian di bumi

bias bulan

bias bulan by MT @ tabanan, bali

Keruh

awan kelabu memekatkan langit
menyelimuti matahari dalam kebekuan
air sungai mengeruh
mengalirkan sampah menuju muara penat
cermin berlapis uap dan jelaga
mata memerah menampung amarah