Keruh

awan kelabu memekatkan langit
menyelimuti matahari dalam kebekuan
air sungai mengeruh
mengalirkan sampah menuju muara penat
cermin berlapis uap dan jelaga
mata memerah menampung amarah

Cahaya Kata-kata

mt-rel

Aku sampai pada batas penantian
Sebuah harapan untuk bisa pergi
Mencari jawaban atas keraguan
Yang mengendap terlalu lama
Dalam pikiranku
Dalam hatiku
Dalam hidupku

Kususuri titian demi titian
Menyerap makna di depan pusara
Kuterbang ke masa lalu
Kutengok catatan usang
Aku terserap
Aku melayang
Aku hinggap

Kunyalakan lentera
Dalam kegelapan
Pada labirin kehidupan
Membaca tanda-tanda yang bisa kumakna

Keraguanku mencapai jawaban
Jawaban berselimut tanya
Tanya menjawab tanya
Menuntut keberanian
Menggoreskan kata-kata
Menjadi lukisan
Menjadi kisah
Menjadi cahaya

Walau berat
Tapi inilah jalanku
Walau terhimpit kelaziman
Mesti tetap kumulai

Menutup Pagi

aku ingin
menutup pagi
tanpa kicau burung
tanpa matahari
tanpa segarnya udara
tanpa kata-kata

sepi

hening, bening, hanya sedenting...

hening, bening, hanya sedenting…

NYAWA KATA - free download

TERNYATA link download sebelumnya sering membuat teman-teman kesal, karena gagal atapun adanya proses registrasi yang menyebalkan… KARENA ITU, linknya saya pindah ke 4shared.com saja.

silakan nyedot langsung DENGAN LINK INI.

atau menuju halaman downloadnya

Judul bukunya, “NYAWA KATA” ada sub judul, berbangsa, bersama, beragama, yang merupakan klasifikasi dari puisi-puisiku berdasarkan tema.

Selamat menyedot dan membaca…

nyawa kata

nyawa kata

Puisi Pemilu

Saat aku nge-net, tak sengaja menemukan puisi lamaku di sarikata.com. Puisi adalah salah satu dari kumpulan puisi tentang PEMILU. Aku C/P kembali di Blog ini. Terima kasih buat mas Yudhi yang masih menyelamatkan tulisan lamaku di website Cerita Indonesia itu. Kupikir, kenapa puisi ini masih relevan ya? Apakah benar kata Bang Namun, “ENDONESYA BELUM BERUBAH!”

MUSIM HUJAN LIMATAHUNAN

Jlegerr
Pohon keramat itu tumbang disambar petir
Hangus, sangat hangus
Ingat Itu pohon keramat
Walau hangus, tetap belum mati
Bahkan kini mampu bermetamorfosis
Menjadi pohon baru
Walau tidak sekeramat dulu
Sebab beberapa penunggu pohon itu
Sudah punya hunian baru
Bahkan langsung punya banyak pemuja
Karena masih banyak rakyat yang merindukan
Kekeramatan antek antek mantan penguasa jagad negeri
Lantaran mereka tak percaya lagi
Pada kekuatan kebo ireng congor belang
Yang pernah menjadi jawara zaman reformasi
Karena kebo ireng makin tambun
Berdiri saja tak mampu, apalagi berlari

Jlegerrr
Petir menggelegar mencekam malam
Musim hujan lima tahunan belum reda
Payung payung lain bermunculan
Rakyat bingung memilih teduhan
Yang satu menawarkan semangat kebangsaan
Walau rakyat tak pernah memahami apa maksudnya
Yang lain melambungkan mimpi indah kesejahteraan
Walau rakyat sudah sering mimpi buruk tentang kehidupan
Ada juga yang menjual ayat ayat tuhan
Walau rakyat tak pernah tahu tentang aturan

Musim hujan lima tahunan
Rakyat selalu jadi rebutan
Demi mencapai kekuasaan
Jika harapan sudah di tangan
Nasib rakyat, peduli setan

Elok
Mataharitimoer, 20 maret 2004

Kenyataannya

Orang-orang kaya
Tak bisa memahami makna hidup
Pikiran tak selaras dengan nurani

Orang-orang miskin
Tak bisa memahami kenyataan hidup
Hati tumpul pikiran beku

Syair yang dinyanyikan seniman
Tidak dimaknai sebagai kontemplasi
Tarian yang menyimbolkan hinaan
Dianggap komedi dan badut-badutan
Mereka tertawa dan bertepuk tangan
Tak biasa memahami kata-kata yang sarat dengan nilai-nilai
Tak bisa memahami ekspresi kepedihan
Tak kuasa membaca simbol-simbol sindiran

Melihat teater atau pertunjukan
Bagi orang kaya sekedar cari hiburan
Orang-orang miskin yang sempat menonton
Merasa statusnya meningkat
Hanyut dalam khayalan menjadi bangsawan

Pikiran tumpul, nurani beku
Mata hati buta, air mata bawang merah
Kusaksikan kenyataan ini
Dengan harapan agar kerangka-kerangka itu menjadi manusia sepatutnya.

Pondok Ungu, 25 Agustus 2002

Kumpulan Puisi Terserak

MELAYANG

melamunkan impian
mengisi waktu tuk terbang
bersama angin senja
melintasi langit malam
temukan cinta dalam nestapa

KEBODOHAN

kebodohan adalah ketika para politisi merengek minta pemilu diulang.
Kebodohan adalah ketika para oportunis tak merasa dihujat.
Kebodohan adalah ketika KPU tak bisa memanfaatkan teknologi informasi.
Kebodohan adalah ketika negeri ini kembali dikuasai, bukan dipimpin.
Kebodohan adalah ketika kita memilih penguasa, bukan pemimpin.
Kebodohan adalah ketika agamawan mencari uang untuk foya-foya.
Kebodohan adalah ketika selebritis mengobral selangkangannya.
Kebodohan adalah ketika perkataan mendahului pikiran.
Kebodohan adalah endonesya!

KERUH

Menggapai angin tak mungkin bisa kau lakukan
Jika pikiranmu masih juga keruh
Kau bilang mau kuasai dunia
Dengan visi warisan leluhurmu
Tapi dengan anjing saja kau perlu senjata api
Dengan sesamamu, kau perlu mulutku

Menggapai langit tak mungkin bisa kau lakukan
Jika keruhnya hati dan pikiran tak juga kau bersihkan

Cihideung, 23 Peb 2005

YA!

ya! aku menatapmu
menatap matamu
menatap ke dalam hatimu
menatap masa lalumu
menatap masa depanmu

ya! aku melihatmu
melihat air mata berkaca-kaca
melihat impian menggelora dalam jiwa
melihat trauma pada kisah hidup
melihat harapan menggantung di atas kepala

ya! aku diam
diam untuk sementara
sebab ada kehidupan yang lebih tentram
dalam cinta
dalam kata-kata yang teruntai
melalui tangis
melalui tawa
melalui hari-hari yang kita langkahi

Cilegon, just for Uqan
mataharitimoer, 02 Maret 2005

JALAN SAJA, TEMAN!

jalan saja
jangan tertarik dengan apa yang telah kamu tinggalkan
itu hanya akan membawamu pada stagnasi

jalan saja
lihat apa yang ada di ujung sana
gapai mimpi-mimpimu

kamu akan tahu bagaimana rasanya
menikmati kepedihan hari-harimu

merenungkan nyanyian keluh-kesahmu
jadikan ajaran
jadikan acuan
jadikan lecutan
jadikan nyanyian

jalan saja
dan tersenyumlah pada fana

MT, Pejaten, 29 April 2005

ADA dan TIADA

saat ini aku sedang menyepi
dalam kubangan malam
merenung bersama gunung
mencair bersama air

maafkan teman
jika aku tak sempat hadir
dalam hari-hari terakhir
bukan aku menghilang
bukan aku pergi

ketidakhadiranku
adalah keberadaanku yang sebenarnya

keberadaanku
hanyalah rasa

MT, Pejaten, 02 April 2005

WAIRAGYA KETIGA

Menunggu
apa yang kumau
apa yang kau inginkan
apa yang mereka impikan

Gelisah
sebenarnya tak perlu
tapi jiwa kita tak bisa menipu
gelisah selalu ada kala menunggu

Bertanya
bertanya pada siapa
bertanya pada jiwa
bertanya pada cerita lama
bertanya pada cita-cita
menunggu membuatku ingin bertanya

Ceritakan apa saja
apa yang terasa
apa yang membuat gelisah
apa yang mau ditanyakan
walau jawaban bukanlah akhir

Menunggu
aku gelisah menunggumu
aku bertanya tentangmu
aku ingin menceritakanmu

MT, 14 Mei 2005

Untuk anak ketigaku Rastan Lintang Wairagya|
30 menit menjelang kelahirannya

Bakar Beban

pagi,
lepaskan mimpi dari belukar pikiran
keluar,
tatap matahari
biarkan dia membakar beban
menjadi rahasia yang kelak bisa kau pahami

pasang bendera,
biar angin mengibarkan apa yang kau rasa

cilegon, 28 maret 2005

Setan MT

hari ini aku diam
sebab belum juga aku bicara
mereka sudah berkomentar

hari ini aku mematung
sebab belum juga aku bergerak
mereka sudah berjaga-jaga

hari ini aku tidur
sebab belum juga aku bangun
mereka sudah menutup pintunya

aku hidup dalam dunia nyata
di tengah belantara manusia

mereka mengira lebih dari segalanya
mereka mengira tak ada yang melebihinya

mereka manusia seperti umumnya aku masih diam
masih juga mematung dan tertidur
sementara mereka ketakutan
pada matahari yang pasti selalu memancar

cilegon, 28 maret 2005