Miskin tapi Sombong

Cerita ini sengaja kupublish karena ada kesamaan tanggal publikasi, 20 Januari. Hanya bedanya tahun 2009 saja. Karena itu sekedar kangen saja sama Tugino dan Tuginem, jadi kupublikasikan ulang. Siapa tahu ada yang belum kenal dengan TnT. :D

(more…)

10 Juta Lenyap Sudah

uangTugino pulang kerja dengan riang gembira. Ini masih jam 4 sore. Mestinya ia belum jam pulang kerja, tapi karena Ngkoh Cin Lung sedang tak ada di kantor, kepada bagian HRD, Tugino beralasan anaknya sakit dan mau membawanya ke dokter. Padahal, sebenarnya ia tak sabar setelah mendapatkan sms dari dari calo tanah tadi pagi.

“No! Uang bagian kamu sudah saya titipkan istrimu, pas kamu berangkat kerja tadi. Lumayan, 10 juta! semoga bermanfaat ya, No!”

Begitu isi sms dari rekannya sesama calo tanah. Gara-gara SMS itu, Tugino tak betah berlama-lama di kantor. Seragam Satpam yang ia kenakan terasa sempit. 10 juta! hanya itu yang ada di kepalanya. Belum pernah seumur-umur ia mendapatkan uang sebanyak itu. Dan baru kali ini ia berhasil mencalokan tanah di sekitar Cikarang, setelah puluhan kali bersengketa karena kasus 3 in 1 : 3 sertifikat asli untuk 1 kavling :D

Tergesa-gesa Tugino melompat dari angkot, menelusuri jalan aspal bolong-bolong di pinggir kali Tegal Gede, belok ke gang buntu, dan membuka pintu rumahnya dengan salam, “Nem, tadi bang Japra nitipkan uang kan?”

Tuginem – istri resmi Tugino -  terkejut. Kehadiran suaminya telah mengganggu keasyikannya menikmati aksi Shah Ruk Khan, bintang film India pujaannya. “Kalo datang jangan ngagetin dong, mas!” seraya menekan tombol pause pada remote control DVD Player. Otomatis gambar bintang pujaannya mematung dengan mulut monyong. Jelas sekali detil wajah sang bintang karena tampil pada TV 29” dengan resolusi tinggi.

Tugino gantian terkesima, “Hah? TV dari mana tuh, Nem? Hah? DVD baru, nem?!!!”

“Ya iya lah, mas. Tadi kan bang Japra ngasih uang seamplop coklat. Masih ada lebel banknya, 10 juta, mas!” jawab Tuginem, innocent.

“Itu uang titipan, nem?!” Tugino marah. Ia bergegas duduk di depan istrinya.

“Bang Japra nggak bilang nitip. Dia cuma bilang, ini hak kalian, semoga bermanfaat! cuma itu.

“Duuh, Nem! Itu uang udah ada rencana pengeluarannya! kamu jangan seenaknya pake gitu aja. Gimana sih kamu! Malah kamu belikan barang-barang nggak berguna gitu!!!”

“Lha, mas ini bagaimana tokh? Barang bagus begini dibilang nggak berguna?! Jaman sekarang sudah tak pantas pakai VCD Player, mas! Semua orang sudah pakai DVD! Lagipula, TV kita yang 14” sudah tak muat buat memunculkan gambar DVD yang bagus-bagus, mas! Gimana sih kamu ini. Kalau tak ada hiburan, aku mau ngapain lagi di rumah? kerja nggak boleh!!!” mulut Tuginem makin monyong, itulah indikator kedongkolannya.

“Tapi itu bukan cuma uang aku, Nem! Aku mesti bagi-bagi sama teman-teman yang berjasa jualin tanah! Lagipula aku sudah rencana mau nyumbang 1 juta ke Panti Asuhan, Duuuh, Nem…. Mana sisanya?”

“nih!” Tuginem memberikan amplop coklat dengan tatapan tetap pada wajah bintang pujaannya di TV barunya.

“Haaaah?? tinggal sejuta, nem?!” Tugino mangap. Matanya memelototi wajah sang istri yang sedang fokus melanjutkan film favoritnya.

“Emang tinggal segitu, mau diapain lagi? Kwitansinya ada semua koq. Ngapain sih aku ngentit uang kamu! Memangnya kamu, yang sering ngentit uangku waktu aku masih kerja …” jawab Tuginem, santai. “Katanya mau nyumbang Panti Asuhan 1 juta. Ya, pas kan?!”

“Anak-anak kamu belikan apa?” tanya Tugino tentang nasib ketiga anaknya yang biasanya, kebutuhannya sering dilupakan oleh ibu kandungnya itu.

“Uang 10 juta mana cukup buat beli kebutuhan anak-anak, mas! Piye tho?” Tuginem cemberut.

Tugino berjalan lunglai dan merebahkan tubuhnya di atas meubel panjang. Lemas. Kepalanya mendongak beralaskan pinggiran meubel, menatap ke langit-langit rumah yang blang-blentong. Tangannya masih menggenggam uang sejuta.

Pupus sudah rencana Tugino terkait uang 10 juta. Terutama rencananya mengunjungi Inah, selingkuhan Ngkoh Cin Lung, atasannya, yang merangkap sebagai selingkuhannya juga… Padahal Tugino berencana memanjakan Inah dari sebagian harta yang ia punya.

Menikmati Rantang dengan Taste

z1Di luar pekerjaannya sebagai Satpam Koh Cin Lung, Tugino sering menerima pekerjaan tambahan. Apapun ia kerjakan asal bisa dapat tambahan penghasilan. Kali ini ia mendapatkan proyek membuat lubang sampah dari toko sebelah.

Tugino membuka rantang jatah makannya. Siang ini berbeda dengan siang sebelumnya. Siang ini ia harus menyelesaikan penggalian lubang sampah. Sedangkan siang-siang sebelumnya ia tetap bertugas sebagai Satpam di kantor milik Koh Cin Lung.

Tugimin juga begitu. Sama seperti  temannya, Tugino. Mereka berdua memang selalu bekerja bersama. Jika salah satunya dapat borongan kerjaan, selalu dikerjakan berdua. Hasilnya, ya dibagi dua. Ketika melihat nasi dan lauk-pauk pada rantang pemberian pemilik proyek, wajahnya sumringah. Terlihat mereka sedang makan berdua di bawah pohon.

Tugimin :  Alhamdulillah, lagi laper gini, ada makanan.
Tugino    :  Makanan apaan! Siang-siang gini makan ikan teri!
Tugimin :  Walaupun ikan teri, kan ada mie juga. Yang penting bisa kenyang.
Tugino    :  Kita kerja keras seperti ini, mestinya dapat ikan kakap! Minimal tongkol lah!
Tugimin :  Ikan teri pakai sambel ijo ini juga bisa bikin nafsu makan kok.
Tugino    :  Gak Napsu!!

Tugino langsung bergegas ke tempat istirahatnya di bawah pohon. Biasanya setelah makan siang, ia ngantuk dan harus tiduran. Tugimin tersenyum saja ketika melihat isi rantang Tugino sudah habis. Rupanya saking tidak sukanya dengan ikan teri sambel ijo, Tugino melahap cepat, sedangkan Tugimin masih asyik menikmati taste* ikan teri sambel ijo.

*kata taste biasa dipakai oleh seorang dblogger, eyang anjari.

Batal PERSAMI

Tugino mencari solusi, bagaimana caranya agar uang gajinya tidak selalu habis ketika sampai ke tangan istrinya, Tuginem. Apalagi setelah Tugino terlibat silent-loving dengan Inah, - perempuan simpanan bosnya, Ngkoh Cin Lung-, Tugino harus bisa menyisihkan uang sekedar untuk ongkos ke rumah Inah. Setelah berpikir panjang, akhirnya Tugino mendapatkan good plan : “Menyelipkan uang simpanannya di dalam sepatu bots butut yang sudah tak dipakainya”. Ia yakin, mana mungkin Tuginem mau menyentuh barang-barang bekas. Apalagi sepatu satpam Tugino, yang aromanya bisa membuat ikan seempang mati keracunan.

Sudah tiga minggu ini Tugino “menabung” demi bisa menemui Inah. Karena belakangan ini Ngkoh Cin Lung sudah jarang menyuruhnya memberikan titipan uang kepada Inah. Dulu biasanyanya seminggu sekali. Kalau sekarang hanya sebulan sekali. Sedangkan Tugino sih, maunya setiap hari… :p Dengan hati berbunga-bunga Tugino pulang kerja. Ia sudah berencana kalau sore ini akan ke rumah Inah. Ini program PERSAMI. Dari sejak Pramuka Tugino senang ikut Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu). Tapi kali ini beda. Persami adalah Perselingkuhan Sabtu Minggu. Tugino membayangkan uang tabungan di Sepatu Bututnya, lalu membayangkan ia makan bakso di kampungnya Inah. hm… indah… Sepanjang jalan Tugino berdendang…. “Tak gendong, kemana-mana….

“Mau pergi lagi ya, mas?” Tuginem menyambut kedatangan suaminya, sambil menonton TV.
“Iya nih. Biasa, dinas luar. Tugas khusus dari Nkoh!” Sahut Tugino dengan acting yang meyakinkan sambil berjalan ke arah belakang rumah, tempat sepatu bututnya bertengger.

“Tugineeeeem!” tiba-tiba terdengar teriakan Tugino di belakang sana. Dengan langkah malas, Tuginem mendekati suara yang penuh dengan emosi terkejut dan marah. “Nem! Mana sepatu bekasku? biasanya kan ngejedog di sini?!!” Tanya Tugino dengan sepenuh hasrat ingin tahu.

“Ah si mas. Ngapain sih, mikirin barang bekas! Tumben sekali. Biasanya juga nggak pernah peduli sama barang-barang lama…” jawab Tuginem santai sambil memegang remote TV.
“Ng.. anu… Ng… Aku berencana memberikan sepatu bekasku buat si Ngalimin, tukang parkir di kantorku! Kasihan dia setiap kerja cuma pakai sendal jepit.” Tugino beralasan.
“Welleh, si Mas ini, tumben banget punya niat baik. Tapi sayang banget, mas. Tadi siang semua sepatu bekas di situ sudah aku jual ke tukang loak. Kebetulan ada yang lewat, bisa ditukar piring, gelas, dan abugosok. Yaa, kalau beli baru kan lumayan. Lumayan, mas! Kita punya tambahan perkakas: 4 piring, 3 gelas, dan setengah karung abu gosok!”

Tugino tersiksa. Ingin marah, tapi takut ketahuan. Tidak marah, ya kesal. Terbayang uang simpanannya kira-kira sudah mencapai 300 ribuan kini telah berpindah tangan ke Tukang Abu Gosok. “Hehh….!” Tugino melenguh. “Huuh!” Tugino mengeluh. Betapa berat baginya menerima kenyataan ini. Batal ketemu Inah. Batal menyelenggarakan PERSAMI.

TnT-ku hilang!

Ini bukan postingan yang penting banget sih. Tak ada kaitannya dengan masa depan negeri ini. Juga tak ada kaitan dengan bom di Jakarta yang membuat Manchester United kalah WO lawan PSSI Allstar. Tapi bagiku, seremeh apapun postingan, tetap memiliki keterkaitan dengan kisah sebelumnya dan sesudahnya. Ya! Postinganku tanggal 22 Maret 2009 yang berjudul “Rahasia Tugino” raib entah bagaimana modusnya. Aku sendiri tak punya file salinannya, karena aku terbiasa menulis saat online. Langsung dari dasborku. Jadi beginilah resikonya kalau hilang… sedih :(

Aku coba googling dengan menuliskan judul yang selalu kuingat “Rahasia Tugino”. Aku yakin beberapa pembaca setia serial TnT sempat membacanya. Ini adalah lanjutan dari serial TnT berjudul “Tugino’s Affair”. Dalam “Rahasia Tugino” di situ aku ceritakan tentang tugas yang dijalani Tugino dari Koh Cin Lung, untuk melihat Inah, di kampungnya, yang menurut kabar sudah melahirkan. Kisah itu mengungkap hubungan spesial Tugino dengan Inah (Perempuan simpanan Koh Cin Lung). Endingnya mengungkap ciri sang bayi yang lebih mirip Tugino ketimbang Koh Cin Lung.

Hm… Mbah Google dapatkan rekaman postingan tersebut di Blog Indonesia.

sp32-20090717-114032Kuklik link postingan tersebut. Browser mengarah ke blogdetik :

sp32-20090717-114505

Link tersebut tak menampilkan halaman apa-apa. Kosong. Blank!

sp32-20090717-114540

Berarti postinganku HILANG. Duh, bilakah kisah Tugino dan Tuginemku yang satu ini kembali? Adakah teman-teman yang tahu caranya? Atau aku harus minta tolong sama sang admin?

Rumah Dinas

Sebagai Anggota SATPAM di perusahaannya, Tugino semakin mendapat kepercayaan dari Koh Cin Lung. Ia mendapatkan rumah dinas di kompleks karyawan milik Koh Cin Lung. Sebelumnya rumah kecil namun bagus itu ditempati oleh Kepala Satpam Koh Cin Lung. Sang Kepala Satpam dimutasi ke Jakarta, di sebuah Bank yang juga milik Koh Cin Lung.

Seminggu sebelum pindah dari kontrakan ke rumah dinas, Tugino dan Tuginem melihat-lihat rumah barunya itu. Kepada seorang Cleaning Service Tuginem berpesan, “Pokoknya saya kepingin rumah ini bersih. Kamu harus bersihkan kamar mandinya! Jangan sampai ada noda sedikitpun, aku jijik kalau kamar mandinya jorok!” sebuah pesan yang lebih bersifat perintah. “Itu juga! Dinding di pokok itu mesti dibersihkan! Rumah bagus gini koq dicoret-coret!” Bibir tuginem mencibir melihat coretan dinding karya anak Balita sang Kepala Satpam.

Kini Tugino dan Tuginem sudah menempati rumah barunya. Rumah Dinas yang tidak terlalu besar, namun amat bersih terawat. Ada sebuah kamar utama dan satu kamar lagi yang lebih luas untuk anak-anaknya. Bahagia sekali Tuginem memanjakan dirinya di rumah baru. Seumur hidupnya, belum pernah ia merasakan hidup di rumah yang layak huni.

Sementara itu, di kontrakan yang sebelumnya ditempati Tugino dan Tuginem, Bang Haji Onet berdiri tolak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sang pemilik kontrakan, Bang Haji Onet mengomentari perubahan yang amat drastis dari rumah kontrakannya, “Astaghfirullah! Ini rumah koq jadi kayak kandang kambing! Ini tembok udah kaya relief Candi Borobudur, gambar semua!” Ia makin menggelengkan kepalanya ketika melihat dapur kontrakannya, “Matirabit! Ini dapur jorok bener! Gonggo, Kecoa, Lelue, pade nyarang dimari! Jorong banget dah si Tugino!” Hingga ia masuk ke kamar mandi. “Et dah! ini kamar mandi ape WC umum! Males banget si Tugino nyikat ubin ame tembok! Lumuuut semua! Kerak! Bau!” Bang Haji Onet langsung bergegas keluar dari kontrakannya sambil ngedumel, “Dari 249 kontrakan gue, perasaan cuman yang ini doangan yang ancur! Dasar Tuginem joroknye kagak ketulungan! Kapok dah gue ngontrakin rumah ame die!

Di rumah barunya, Tuginem asyik menonton koleksi DVD film India favoritnya. Mulutnya menganga ketika sang bintang idolanya, Shah Ruk Khan mendendangkan lagu di sebuah taman. Anak pertama dan keduanya tak ada di rumah. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di TPA, bukan Taman Pengajian Al-Qur’an, tapi Tempat Pembuangan Akhir sampah warga Cikarang, mencari mainan bekas. Anaknya yang  bungsu terlihat asyik di pojok ruang sedang menciptakan karya besarnya, sebuah garis-garis abstrak dan gambar benang kusut di dinding yang baru saja dicat ulang. Sedangkan Tugino, sang suami tak ada di rumah dua hari ini. Ia menjalankan tugas rahasia dari Koh Cin Lung ke Karawang.

Tugino’s Affair

Sudah tiga bulan Tuginem dipulangkan dari Malaysia. Itu merupakan akibat dari sikapnya yang terlalu sering melaporkan keburukan teman sekerjanya. Anda yang belum tahu kisah sebelumnya, bisa baca di serial TnT sebelumnya, TnT : Diamprogin!.

Sedih nasib Tuginem. Setiap hari yang dikerjakannya hanyalah melamun. Walaupun melamun bukanlah pekerjaan, tapi tiga bulan adalah waktu yang cukup lama untuk frustasi, dendam, atau menyesal. Dan ia belum tersenyum sedetikpun. Padahal anak bungsunya senantiasa memberikan senyuman kangen. Bocah berusia 3 tahun itu sudah sering ditinggal oleh ibunya. Waktu bocah itu berusia kurang dari 2 tahun, ditinggal bekerja ke Malaysia. Tapi Tuginem masih belum sanggup tersenyum. Walau matanya kelihatan sedang menikmati DVD film India kegemarannya, tapi pikirannya berkeliaran.

Penyebabnya bukan hanya masalah pemecatannya. Tapi masalah lain menyangkut urusan dalam negeri keluarganya. Ketika masih bekerja di Malaysia, ia mendengar kabar kalau suaminya, Tugino “ada main” sama Inah, pembantu rumah tangga seorang cukong kaya di kompleks sebelah kampung. Kabar itu ia dapat dari sms anak pertamanya. Tapi ketika ia pulang mendadak tiga bulan yang lalu, hingga hari ini, Tugino tetap menyangkal dugaan itu.
Salah satu jalan yang ada di pikirannya adalah, mencari informasi melalui kelompok arisan. Tapi sulit baginya bergabung, karena ia belum pernah ikut arisan. Bagaimana mungkin ia ikut arisan di Cikarang, sementara dirinya berada di tanah seberang. Jika dititipkan kepada suaminyapun, ia tak rela. Mana enak membayangkan sang suami dikelilingi ibu-ibu arisan saat dimulainya pengocokan.

Untuk mencari informasi di kelompok pengajian ibu-ibu, juga tak mungkin. Ia tak pernah sekalipun ikut pengajian walaupun saat ia cuti bekerja dulu. Jika ia memaksakan diri, justru akan menyiksa diri, karena ia sama sekali tak bisa shalawatan apalagi mengaji.

“Aha!” ia sedikit beranjak dari duduknya. Si bungsu yang tertidur di pangkuannya dipindahkannya ke bawah, di kasur lipat yang sudah berkali-kali diompoli. Ia langsung mengambil kantong kresek hitam, mengambil dompet dari lemari plastik, dan keluar rumah.

Yang dituju adalah warung mpok hindun, satu-satunya warung yang paling ramai di kampungnya. Bukan saja ramai dengan beragam sembako dan sayur mayur, tapi juga ramai dengan persliweran informasi. Saking terburu-buru, ia lupa mematikan film India kegemarannya, padahal saat itu adegan sedang seru-serunya, Inspektur Rajiv sedang menuju rumah Tuan Takur untuk pembalasan dendam…

“Eh, Tuginem. Mao beli ape?”

“Sudah sepi, mpok?” Tuginem bertanya saat ditanya.

“Et dah, sepi? Ya kagak! Ntu liat, ikan asin masih banyak, ikan teri masih pade ngegerombol, tempe masih ada, tahu bejejer tuh dipojok!” Mpok Hindun menunjukkan barang dagangannya. Di Cikarang ini, ia termasuk penduduk asli. Tapi keluarganya justru keturunan Haji Ali, jawara dari Kampung Jembatan, Cakung.

“Maksud saya, yang beli. Bukan lauk. Tapi saya beli tempe dan ikan teri juga lah.”

“Sebentar ye, gue bungkusin…” Mpok Hindun sigap melayani Tuginem, “Udah! Ape lagi?” tanyanya.

“Sudah…” Tuginem bingung mau mulai dari mana. Ia butuh informasi pihak ketiga agar permasalahan dengan suaminya mendapatkan kejelasan.

“Kenape lu? Bengong aje? Tuh ikan teri sama tempe ude gue bungkusin. Mikiri ape lu, Nem?” begitulah kalau Mpok Hindun bicara, tak cukup satu kalimat singkat.

“Ng… nganu…”

“Kenape lu? Nganu-nganu… lu mikirin lakilu ye?! Bilang aje terus terang. Lu mau nanya soal lakilu?”

“Eh iya, mpok. Sebenarnya gimana sih? Koq saya jadi bingung…”

“Emang lakilu ngomong ape?”

“Dia bilang tidak ada hubungan sama si Inah itu. Tapi saya masih belum percaya, mpok!”

“Kesian deh lu, nem! Lakilu tuh, ampir tiap siang mampir di rumah Ngkoh Cing Lung… semua orang mah, udah pade tahu.” Ngkoh Cin Lung adalah salah satu penghuni kompleks sebelah kampung yang paling kaya raya. Ia punya toko dimana-mana. Salah satunya di pusat jajan Lippo Cikarang. Menurut kabar, memang Tugino sering ngelayap ke rumah Ngkoh Cin Lung saat tuan rumahnya tak ada. Biasanya setelah jam makan siang, Tugino selalu ditemani Inah, pembantunya Ngkoh Cin Lung.

“Memang semua orang sudah lihat sendiri, mpok?” tuginem menyelidiki

“Lu boleh tanya sama semua ibu-ibu di sini. Ntu mah udah bukan rahasia, gua musti ngomong berape kali?!” mpok Hindun ngotot.

“Ngapain ya mas Tugino di situ?”

“Yach elu, nem! Jadi perempuan mah jangan bego-bego amat! Yang namenye laki-laki ditinggal bininye, pan musti ada pelampiasan! Lha, yang nggak kenal sama lakilu yang idung belang ntu kan cuma si Inah! Mangkenye, die embat tuh pembantu!”

“Hah? Diembat? Diembat itu diapain mpok? Dipukuli?” Tuginem terkejut. Yang ia tahu, embat itu berarti memukul.

“Yach elu, nem! Gue kate lu… pegimane gue musti jelasin ye… ngembat ntu bukannye mukulin! Ngembat ntu…. Bisa berarti ngambil, nilep, ngerjain… pokoknye tergantung konteknye deh… alah… gue jadi puyeng ngejelasin same lu!”

“Berarti tergantung dengan siapa ia contact ya mpok? Berarti si Inah itu salah satu contact mas Tugino ya, mpok?!”

“Terserah lu dah! Susah gue ngomong same lu!” Mpok Hindun membasuh keringat di keningnya. Ia kewalahan menjelaskan masalah bahasa kepada Tuginem. Tapi ia belum puas untuk menyampaikan informasi, “Pokoknye gini aje deh, Nem! Kite semua udah pada nyaksiin sendiri. Waktu si Inah dipecat sama Ngkoh Cin Lung, denger-denger die udah bunting tuh. Nah, waktu itu, yang nganterin pulang kampung cuman lakilu aje! Cuman Tugino doang!”

“Pulangnya kemana, mpok?”

“Ke Cirebon ape ke Indramayu ye… gue nggak begitu tau deh, dimane kampungnye si Inah. Pokoknye gue cuman tau, lakilu yang nganterin sampe kampungnye. Pake nginep segala!” mpok Hindun sangat bersemangat kalau menyampaikan berita. Sayang sekali ia tak pernah dapat tawaran menjadi pembawa berita di stasiun Tivi Nasional.

“Kalau begitu, makasih mpok.” Tuginem membayar belanjaannya dan langsung kembali pulang.

Sepanjang jalan Tuginem memikirkan cerita mpok Hindun. Ia semakin bingung untuk mempercayai kalau suaminya selingkuh dengan pembantunya ngkoh Cin Lung. Karena hingga semalam, Tugino masih bertahan bahwa berita itu fitnah. Tugino memang bercerita bahwa ia mengantarkan Inah ke kampungnya di Indramayu. Benar pula, Tugino juga bilang sempat menginap semalam karena tak mungkin langsung pulang. ia harus menjelaskan kepada orang tua Inah soal kehamilan anaknya. Tapi Tugino menyangkal, ia tak pernah berinvestasi dalam urusan kehamilan si Inah.

“Lalu kenapa kamu mau repot-repot mengantarkan pembantu itu?” Selidik Tuginem kepada Tugino, saat mereka membahas kasus ini kemarin malam.

“Aku kasihan, Nem. Kalau bukan aku yang mengantar, siapa lagi? Tak ada satupun orang yang mau menolong si Inah. Lagi pula, ngkoh yang menyuruh saya.”

“Iya, kamu mau nolong karena sering berduaan siang-siang!” Tuginem kesal.

“Lho siang-siang itu nggak apa-apa, Nem! Yang repot itu kalau berduaan malam-malam!” Tugino beralasan.

“Tapi ngapain kamu setiap siang ke situ?”

“Lho, gimana sih? Saya kan tidak setiap hari ke rumah Ngkoh Cin Lung. Hanya beberapa kali seminggu, itupun kalau diperintah ngkoh Cin Lung di Toko!” Ini yang tidak diketahui oleh orang-orang sekampung terutama mpok Hindun. Tugino itu bekerja sebagai satpam di Sebuah toko milik ngkoh Cin Lung. Ia sering ditugaskan untuk mengambil sesuatu di rumah tuannya.

“Tapi sekalian kan?!” Tuginem menuduh.

“Sekalian apa? Kalau makan siang sih, beberapa kali. Ya, yang namanya sudah disediakan. Ya.. saya makan. Daripada beli di warteg. Mahal, Nem!” Tugino tenang.

“Pokoknya aku nggak percaya!!! Teganya kamu, mas!” Tuginem mengakhiri dialog malam dengan tangisan di atas bantal.

“Nggak percaya ya sudah…” Tugino keluar, menuju pos ronda, main gaple adalah jadwal rutin setiap malam.

Serial TnT : Diamprogin

maunya menulis konfrontir atau dikonfrontasikan, tapi ragu, apakah bahasa itu benar secara kamus bahasa endonesya. Nggak sempet tanya sama ESKADIJE sih. Lagipula tatkala kucari di KBBI Online, nggak dapat tuh padanan katanya dalam bahasa endonesya. Jadilah aku menulis dari bahasa aslinya. Confront berarti berhadapan muka, pertemuan langsung face to face. Tapi ini bukan cerita tentang pemakaian bahasa. Ini cerita tentang salah satu kasus yang terdapat dalam sebuah interaksi manajerial di sebuah perusahaan. Saya merasa bahasa betawi lebih akomodatif buat menerjemahkan bahasa inggris. Karena itu judulnya jadi rada betawi. Nyelempang dikit nggak pape deh… 

Sebagai pemimpin, atau apalah sebutannya, misalnya manajer, kepala cabang, kabag operasional, mandor, petinggi, ataupun kepala suku, anda bisa jadi pernah mendapatkan laporan dari staf tentang kinerja buruk rekan sekerjanya. Seperti yang tertuliskan dalam kisah TnT ini. Selamat membaca…

Ini pertemuan yang ke delapan antara Tuan Mahfudz pengusaha toko serba ada di kota Selangor, berhadapan dengan Tuginem, pegawai tokonya. Pertemuan ini merupakan inisiatif Tuginem, yang selalu melaporkan kinerja buruk rekan sekerjanya bernama Sumirah asal Serang, Banten.

“Apakah lagi yang akan kamu ceriterakan, Tuginem?” Tuan Mahfudz belum selesai membaca koran pagi.

“Itu tuan, saya kemarin melihat kalau Sumirah bicara terus dengan temannya yang datang pura-pura belanja di toko ini. Ia berbicara banyak selama bekerja. Padahal itu membuat tamu-tamu lain terganggu tuan.” Lancar sekali Tuginem melaporkan cerita tentang keburukan kinerja temannya. Giginya yang dominan semakin menghiasi bibirnya yang cukup tebal.

“Selalu ada lagi laporan baru. Kamu ini hebat! Setiap hari selalu ada laporan tentang Sumirah yang malas itu.”

“Iya tuan, saya ini sudah setahun kerja di sini. Sedangkan Sumirah baru tiga bulan saja sudah malas-malasan. Padahal selama ini tanpa adanya dia, kita sanggup menangani banyaknya tamu setiap hari…” Tuginem menunjukkan itikad baik kepada tuannya.

“Iya, tapi menurut kami, penambahan tenaga kerja itu perlu, agar ada peningkatan karir buat yang sudah lama. Kalau ada yang baru, bukan berarti yang lama diberhentikan, justru memungkinkan untuk dinaikkan karir sebagai supervisor.”

“Wah, saya jadi tidak enak hati nih tuan. Saya tidak bermaksud menjadi supervisor. saya hanya merasa peduli saja akan citra baik toko ini di mata para tamu.” Jawab Tuginem merem melek. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya.

“Ya sudah, terima kasih, Tuginem. Silakan bekerja kembali!” Pinta Tuan Mahfudz yang langsung kembali menyantap koran pagi. Dengan berlangkah mundur, sambil memperhatikan sosok tuannya yang walau sudah berumur tapi masih terlihat ganteng, ia meninggalkan ruangan Tuan Mahfudz… dalam hatinya ia bergumam, “oh my richard gere…”

Tuginem kembali bekerja sebagai penjaga toko. Tugasnya adalah menolong jika ada penunjung yang datang, agar tidak tersesat dalam mencari barang yang diinginkannya. Ia khusus menunggu barang dagangan sejenis cinderamata. Salah satu pojokkan di antara berbagai rak beragam jenis di toko besar ini.

Sedang asyik menunggu barang dagangannya sambil ber-sms-ria, lewatlah Sumirah yang selalu menunduk takut padanya. “Apa kamu! Ada apa kamu kesini?! Sana ke tempatmu!”

“Maaf, mbak, saya mau ke kantor.” jawab Sumirah lugu.

“Mbak? Memang saya mbak mu apa? Apa? ke Kantor? Mau apa kamu?” Sumirah masih bertampang masam. Tampang default jika ia bertemu dengan orang-orang yang tak memberikan keuntungan baginya.

“Entahlah, mbak. Saya dipanggil tuan. Mungkin saya punya kesalahan…”

Tuginem terkejut. Wajahnya langsung mendekati telinga Sumirah, bukannya mencium apalagi menggigit telinga, tapi berbisik, “… awas ya kalo ngomong macam-macam. saya kembalikan ke Serang kamu! Mau kamu pulang kampung, heh?!”

“Ya, mbak. saya masih mau tetap bekerja di sini….” selalu ketakutan

“Ya sudah! Sana masuk ke kantor, ngapain berdiri di depan saya saja. sempit tahu!” Tuginem kembali ke posisi standarnya, berdiri di antara jejeran cinderamata, matanya menatapi tamu-tamu yang baru masuk pintu toko di depan sana. Sedangkan Sumirah sudah menghilang dari balik pintu Tuan Mahfudz.

Di dalam ruangan, bukan hanya ada Tuan Mahfudz dan Sumirah saja. Tapi ada beberapa staff tuan Mahfudz dan beberapa 3 orang karyawan lainnya semua perempuan. Tuan Mahfudz bertujuan menindaklanjuti laporan Tuginem tentang kinerja buruk pegawai baru: Sumirah. Dari laporan pertama hingga kedelapan, yang masih hangat tadi pagi, tak satupun yang didukung oleh staffnya dan ketiga orang karyawan lainnya. Tuan Mahfudz jadi bingung. “Bagaimana ini? Saya mendapatkan laporan, kalau anak ini tidak bagus kerjanya. Tapi mengapa kalian semua tidak bicara benar? Kenapa?”

“Maaf, Tuan. Kami tidak pernah melihat anak ini, si Sumirah ini melakukan kedelapan masalah.” kata salah seorang staff administrasi yang setiap hari mangkalnya di ruangan toko juga.

“Betul tuan, eh maaf Tuan, saya sebagai sesama karyawan, juga tak melihat kesalahan Sumirah. Memang ada sih, orang yang seperti isi laporan itu, tapi setahu saya, bukan Sumirah…” kata salah seorang karyawan perempuan, Ponirah namanya.

“Maaf Tuan, Betul Tuan…” Dua rekan kerjanya mendukung. Begitupun dengan dua orang staff lainnya.

“Oh begitu… kalau begitu, siapa orang yang kamu maksud, Ponirah?” Selidik Tuan Mahfudz.

Ponirah planga-plongo menatap kedua wajah temannya yang juga lugu dan pucat. Ia berharap mendapatkan perwakilan suara…. tapi sia-sia…. “ng… anu tuan….”

“Anu? Siapa itu? Heh Shahal! Apa ada karyawan kita bernama Anu?” Tanya Tuan Mahfudz kepada staff HRD-nya. Yang ditanya langsung melakukan searching di komputer, dan melaporkan… “Tak ada Tuan… adanya…. sebentar tuan…. m..ANU…lang… tapi itu bukan pegawai tuan. Itu orang yang membuat program ini, sahabat tuan, orang Medan itu….. Maaf Tuan, tak ada karyawan pakai nama Anu tuan….” demikian laporannya cepat…

“Macam mana? Siapa heh, Ponirah?” Tuan Mahfudz sebenarnya kesal, tapi karena usianya, ia mampu meredamnya dalam senyum sambil geleng-geleng kepala.

“Ng…anu tuan… namanya Mugi… eh …. Tuginem tuan… maaf tuan… saya takut salah tuan…” Ponirah kelihatan underpressure. Ia memang salah satu teman Tuginem. Ia tahu betul bagaimana kerja Tuginem. Tapi sebagai teman, ia juga sebenarnya tak berani untuk mengadukan temannya. Tapi baginya, ini sudah kepalang tanggung.

“Apa? Tuginem? Masya Allah, macam mana, ini orang pandai bicara betul. Tak salah cakapkah kamu Ponirah? Betul kamu bilang Tuginem yang berlaku buruk selama ini?” Tuan Mahfudz konfirmasi kepada Ponirah yang semakin pucat. “Tak usahlah kau takut bicara benar! Hapus keringat kamu itu. Bikin tak sedap dipandang mata! Ambil minum sendiri sana, Ponirah!” tangannya menunjuk ke arah dispenser yang biasa disediakan buat tamu.

“Maaf tuan… benar Tuan. Tuginem, Tuan….” Ponirah melirik kedua temannya, yang juga menunduk ketakutan. keduanya akhirnya mengangguk-angguk mendukung pernyataan Ponirah. Keduanyapun belepotan keringat…

“Macam mana ini? Tiga orang bicara sambil basah-basah raut wajahnya! Tak sedap aku melihatnya?! Apa AC di ruangan ini sudah rusak temperaturnya?”

“Maaf Tuan, kami pikir, ketiganya benar. Mereka berkeringat justru karena mereka jujur. Katanya kalau orang indonesia bicara benar, mereka kelihatan pucat, seperti orang ketakutan. Karena biasanya kalau bicara jujur, mereka akan mendapatkan ancaman dari orang-orang yang tak suka mereka berlaku jujur…” salah seorang staff Tuan Mahfudz menginterpretasikan sikap ketiga karyawannya kepada Tuan Mahfudz.

“Oo, begitu… Pintar sekali kau Amir. Belajar dari mana kau? Buku lagi, jawabmu? Memang kutu buku kau! Tapi terima kasih, Amir. Saya mengerti duduk perkaranya. Sekarang Tolong panggil Tuginem menghadap saya!”

Capek juga nulisnya…. singkat cerita dah…  Semua pasti sudah bisa nebak apa ending dari cerita ini. Bagaimana nasib Tuginem setelah dikonfrontir di hadapan orang-orang di dalam ruangan itu. Jadi. Tak perlulah saya melanjutkan kisah ini. Karena intinya hanya menekankan betapa pentingnya melakukan konfrontir jika ada kasus yang nggak jelas ujungnya. Sepertinya Tuginem harus kembali ke Endonesia, bertemu suaminya, Tugino… di Cikarang… wah tapi Tugino kan sudah selingkuhan sama Inah …. hehehe.. makin rumit deh hidup mereka….

SELINGAN… Jika anda jadi bossnya Tuginem, apa yang akan anda lakukan?

Bagi yang belum tahu siapa Tuginem, silakan baca kisah-kisah sebelumnya pada kategori Serial TnT (Tugino dan Tuginem)

Tuginem Berobat

Tuginem mengantar teman kerjanya ke Rumah Sakit. Sudah dua hari temannya tidak bisa makan, mungkin maagnya kambuh. Setelah keluar dari ruang dokter, Tuginem melirik kartu berobat milik temannya. “Bagus banget kartunya, rah” komen Tuginem kepada Ponirah. Ponirah tak terlalu tertarik dengan kartu berobat, jadi dia cuek aja dengan komentar teman sekerjanya itu.Mereka mestinya menuju halte di depan Rumah Sakit. Tapi tiba-tiba Ponirah kehilangan Tuginem. Iapun mencari-cari Tuginem ke segala arah, ke segala area, ke segala selasar, ke segala tempat kerumunan orang. Tak ketemu… Lelah, Ponirahpun duduk termangu, menunggu di halte bus depan Rumah Sakit itu.

Tuginem sementara ini tinggal sendiri, pisah ranjang dari suami tercinta, Tugino yang ketahuan selingkuh dengan Inah, pembantu rumah tangga tetangga. Dengan memendam kesal Tuginem meninggalkan suami dan ketiga anaknya. Kamu yang belum tahu siapa dan bagaimana kisah-kisah Tuginem, bisa baca serial TnT (Tugino & Tuginem) di sini. Tapi anda pencinta Tugino dan Tuginem, jangan khawatir, mereka belum bercerai. Mereka nggak seperti selebritis (artis, aktor, politisi, dan ustadz/ustadzah) yang doyan kawin-cerai.

Setengah jam sudah lewat. Tuginem membangunkan Ponirah yang duduk tertidur di halte. “Kamu dari mana saja, Nem?” Tanya Ponirah sambil mengucek-ngucek matanya.

“Aku periksa gigi ke klinik gigi.”
“Lho, bukannya kamu hanya mau mengantarku saja. Memang kamu sakit gigi?”
“Ya nggak sih. cuma…”
“Apa kata dokter gigi tentang gigimu itu? Apa bisa diratakan agar tak terlalu nongol?” Ponirah itu orangnya lugu. Bicara seperti itu juga tak ada maksud menyinggung Tuginem.
“Ya, aku nggak jadi periksa, lha antriannya panjang. Lagi pula aku nggak kepingin diperiksa kok.”
“Lalu kenapa kamu daftar jadi pasien?”
“…ng…. aku cuma kepingin punya kartu berobatnya saja. Bagus banget persis kartu ATM” Jawab Tuginem sambil menatapi terus Kartu Berobat di kedua tangannya.

Gerobak Pak Guru

Tuginem masuk dan membanting pintu. Ia duduk menibani sofa dengan beban badannya. Wajahnya - yang ketika gembira saja kelihatan cemberut - makin ditekuk seperti kain lecek kena ompol belum dicuci tiga hari dan ngembrek di pojok ruangan. Bibirnya dicibirkan, “Mau apa tuh bang Udin! Jadi orang bisanya menyaingi orang lain saja!”

“Menyaingi apa, nem?” Tugino sang suami menanggapi sambil memotong-motong singkong dengan alat pemarut.

“Itu, coba kamu lihat tuh, bang Udin, masa dia bikin
gerobak!!” Tuginem menunjuk ke arah jendela, sejurus dengan bang Udin yang sedang mengetuk-ngetuk paku dengan palu.

Tugino berdiri dan mengintip dari jendela, “wah, betul, nem, bang Udin bikin gerobak!”

“Begitulah orang “sirik”. Bisanya cuma niru-niru lalu bikin saingan!” bibirnya makin monyong.

“Pantas saja dia tanya-tanya waktu aku bikin gerobak.” Tambah Tugino

Sudah sebulan lebih Tugino dan Tuginem jualan keripik singkong. Ia membuat sendiri gerobaknya. Murah meriah, dari kayu jati belanda bekas yang dibelinya dari lapak kayu Madura.

Sejak berjualan kripik singkong di depan Mall Baru dekat rumahnya,
penghasilan Tugino bisa dibilang lumayan bagus. Kini ia tak pernah lagi menunggak SPP ketiga anaknya yang sekolah di SD Negeri. Karena memang bantuan pemerintah untuk biaya SPP tersalur baik di sekolah anak-anaknya. Kini
ia tak pernah lagi mengutang di warung bu Menot, karena dengan penghasilan dari kripik singkong, ia bisa membeli kebutuhan makanan sehari-hari. Paling tidak, hidupnya lebih ringan karena tak lagi punya hutang.

Ide jualan itu berasal dari beberapa orang tetangganya yang lebih dulu jualan di depan Mall Baru. Sejak beroperasinya Mall Baru, Kampung Rawan Gusur, tempat Tugino berdomisili jadi ramai. Setiap hari ada saja orang yang datang ke Mall untuk urusannya masing-masing. Dari sekian ratus
orang yang datang ke Mall, tidak sedikit juga yang mampir di tempat jajanan depan Mall. Maklum, harga depan Mall bisa lebih murah ketimbang di dalam Mall. Itu lumrah.

Pernah seminggu yang lalu keamanan Mall meminta agar masyarakat Kampung Ragu (Rawan Gusur) diminta tidak lagi berjualan di depan Mall karena dinilai mengganggu ketertiban, kebersihan, dan keamanan sekitar Mall. Tapi berkat negosiasi Bang Japra, Jawara Kampung Ragu, akhirnya permintaan Pihak Keamanan (Satpam) Mall itu luruh. Bang Japra memberikan opsi sederhana kepada manajemen Mall yang diwakili oleh komandan Satpam : 1. Warga boleh jualan, Mall tetap ada ; 2. Warga tidak boleh jualan, Mall jadi kuburan… (hwekekeke…  dasar Jawara!) Lumayan juga buat bang Japra. Dari warga yang jualan ia mendapatkan pajak harian lima ribu rupiah per lapak. Kalau yang berjualan ada 20 orang, maka penghasilan hariannya adalah seratus ribu. Belum lagi jatah bulanan dari komandan Satpam yang pada akhirnya menerima Bang Japra sebagai penasehat keamanan di lingkungan Mall itu berdiri.

Tugino sendiri sebelumnya hanya seorang kuli bangunan tak tetap (baca serial TnT 1 dan 2). Namun sejak negara ini mengalami krisis moneter, Tugino jarang dapat panggilan proyek. Untuk mengisi waktu kosong selama menganggur, jualan adalah pilihan cerdas. Ingat! Tak selamanya orang bodoh itu tak cerdas.

“Besok aku tanya deh ke Bang Udin, dia mau jualan apa.” Tugino kembali melanjutkan pekerjaannya mengiris singkong.

“Ga usah tanya-tanya, lha wong dia sudah jelas lagi bikin
gerobak!” Tuginem masih sewot.

“Kan lebih baik ditanya juga, gerobaknya buat apa?!”

“Ya sudah pasti buat dagang, mas! Masa sih buat mudik!” Tuginem masih kesal.

“Mana mungkin bang Udin mudik, dia kan orang asli sini!” Tugino masih sadar kalau bang Udin itu orang asli Kampung Ragu. Sejak masih zaman kumpeni Belanda nenek moyang bang Udin tinggal di Kampung Ragu. Bahkan menurut legenda orang-orang sini (baca : tutur tinular Kampung Ragu) bang Udin masih satu keturunan dengan bang Japra. Hanya saja keluarga bang Japra yang masih
mengikuti tradisi sebagai Jawara Kampung Ragu. Sedangkan garis keturunan hingga ke bang Udin hanya jadi warga biasa, bahkan kebanyakan sudah migrasi ke pinggiran kota karena tanah warisannya sudah habis dijual. Bang Udin sendiri
pekerjaannya hanya guru SD. Istrinya ibu rumah tangga biasa yang pekerjaannya hanya mengurusi satu orang anaknya yang belum usia sekolah.

“Aku yakin dia pasti mau jualan. Kamu tahu sendiri kan, dia cuma ngajar di SD. Tahu sendiri kan, berapa sih gaji guru SD? Belum lagi kalau gajinya disunat!” Wah, ada benarnya juga pernyataan Tuginem. “Pokoknya kalau dia ikut-ikutan
jualan juga, nyaho luh!” ancam Tuginem.

“Ya sudah, besok aku tanya, dia mau jualan apa. Sudah, sekarang kamu
siapkan penggorengan, masak singkong ini. Nanti sore kita sudah harus
dagang, ini kan malam minggu!”

Seperti biasa, setiap malam minggu pengunjung Mall lebih ramai dari hari biasa.
Anak-anak ABG biasanya sudah nongkrong di Mall sejak sore. Ini peluang
yang bagus bagi warga yang berjualan di depan Mall.

Sudah berlalu tiga hari sejak malam minggu. Ternyata Tugino lupa bertanya
kepada bang Udin, gerobaknya untuk jualan apa. Siang hari bolong
setelah pulang mengajar, bang Udin mendorong gerobak barunya. Melihat
dari ciri khasnya, gerobak berwarna biru itu pasti untuk berjualan mie
ayam. Tapi mengapa gerobak bang Udin kosong, tak berisi apapun seperti
layaknya orang mau berjualan mie.

Tuginem yang sekilas melihat bang Udin lewat di depan rumahnya langsung mematikan TV. Padahal film India favoritnya baru saja ditayangkan. Ia rela melewati film Indianya demi untuk mengetahui kemana gerangan bang Udin membawa gerobaknya. Tak lupa ia memakai kacamata hitam, biar seperti detektif pikirnya. Tugino tetap asyik duduk bersandar di tembok. Tangan kirinya masih memegang serutan singkong. Tangan kanannya tetap memegang singkong putih. Keringatnya menetes dari dahi. Matanya lelap… Ia tak
tahu istrinya menguntit suami orang.

Bang Udin memasuki gerbang sekolah. Marjuki, penjaga sekolah SDN Kampung
Ragu menyambut bang Udin dengan wajah ramah dan bahagia. Ia cukup
menyalami, iapun mencium tangan bang Udin. Yang tangannya dicium
langsung menepuk pundak Marjuki yang baru dua minggu menikah. Ia dan istrinya tinggal di rumah penjaga sekolah.

“Ini gerobaknya, Juki. Saya berharap istri kamu bisa jualan mie ayam di
kantin sekolah ini. Tapi ingat, harus murah, bersih, dan sehat ya!
Maklum, inikan SD bukan SMA” bang Udin menasehati Marjuki yang
mendapatkan hadiah gerobak untuk berjualan mie ayam. Waktu menikah, bang Udin tak sempat kondangan apalagi memberikan kado. Ia pernah berjanji pada Marjuki kalau memang ia mau jualan bersama istrinya di sekolah, bang Udin siap membuatkan gerobak.

“Makasih pak guru, mulai besok saya sudah bisa jualan.” Sahut Marjuki

“Memang peralatan yang lainnya sudah siap?” tanya bang Udin.

“Sudah semua pak guru, tinggal mulai saja. Sekali lagi makasih ya pak guru!”
Marjuki kembali mencium tangan pak guru, eh bang Udin.

Tuginem yang menguping dari pagar sekolah sambil pura-pura memunguti sampah dedaunan langsung melesat menuju rumahnya. Wajahnya masih cemberut, tapi entah karena apa. Tanya saja sendiri ke Tuginem!

Cihideung Forest, 30 Maret 2006