Mengingat, Menimbang, Memperhatikan: TUGINEM

Hari ini Tuginem melenggang jalan sendirian. Celana jeans ketat yang dikenakannya kelihatan terlalu besar untuknya. Ikat pinggang digunakan untuk menyangga agar jeans itu tidak kedodoran hingga berpotensi menciptakan kerusuhan lingkungan sekitar. Ikat pinggang itu melingkari perut Tuginem, kira-kira setelapak tangan di atas pusar. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu memperhatikannya. Dan Tuginem tersenyum ramah, karena menganggap semua orang pasti menyukai penampilannya dengan celana baru yang dibelinya di Plaza.

“Mau kemana, Nem?” Tanya salah seorang tetangga yang kebetulan bertemu dengannya di terminal.  Tuginem menjelaskan kepada tetangganya kalau ia akan menyusul anak-anaknya yang kini sedang diajak bermain di kantor ayahnya. Tuginem merasa bangga kalau kini suaminya sudah punya perusahaan sendiri. Bahkan suaminya kini jadi Bos, dengan sepuluh orang anak buah. Tuginem juga kepingin sekali melihat kantor milik suaminya itu. Beberapa meter sebelum sampai menuju kantor suaminya, Tuginem mengenakan kacamata hitam model mata kucing.

Tugino memang tidak lagi bekerja ikut borongan renovasi rumah bersama mandornya. Kebetulan bang Mandor memang sedang tidak punya order. Bujang, teman Tugino yang lain punya sebuah toko kelontong yang cukup bagus dan ramai dikunjungi pembeli. Ia mengajak Tugino agar bekerja padanya, menunggu toko. Dari pada mengganggur, Tugino menerima ajakan Bujang. Sudah dua minggu Tugino bekerja di sini.

Tapi hari ini mungkin hari sial buat Bujang. Di hari minggu yang sibuk ini, banyak pembeli yang merasa terganggu dengan lalu-lalangnya anak-anak Tugino yang sedang main kejar-kejaran. Si sulung dan si tengah berteriak-teriak sambil berlari dari gang ke gang dengan wajah yang ceria. Sedangkan si bungsu asyik mengaduk-aduk tumpukan bungkus permen yang ada di rak makanan ringan. Tugino sendiri sedang menjalankan tugasnya sebagai pencatat barang-barang masuk dan keluar di pojok ruangan. Sudah lebih dari 21 kali Bujang melarang anak-anak Tugino untuk tidak bikin ribut. Tapi sia-sia, mereka justru lebih liar setiap kali diperingatkan. Jika sekali diperingatkan mereka tambah liar sekali, maka jika sudah 21 kali diperingatkan, berarti mereka tambah liar 21 kali. Bujang stress!! Tugino saking sibuknya mencatat stock barang masuk dan keluar, sama sekali tak memperhatikan ekspresi Bujang yang cemberut saja sedari pagi.

Tuginem masuk melalui pintu otomatis yang bisa terbuka sendiri apabila akan dilewati. Ia berkali-kali menepuk-nepuk dadanya karena terkejut dengan pintu yang terbuka sendiri itu. tapi sebentar saja, ia sudah normal kembali. Dulu, waktu masih bekerja sebagai tenaga kerja illegal di Malaysia, ia sering menemui pintu seperti itu di mall. Ia melihat si kecil sedang menciptakan gunungan permen dari beberapa bungkus permen yang dibongkarnya. Beberapa biji permen berantakan di lantai dekat kaki si bungsu. Tuginem melewati si kecil yang sedang asyik dengan mainan barunya. Di ujung gang ia bertemu salah seorang pegawai toko dan langsung menyuruhnya memungut permen-permen yang berantakan itu. Pegawai toko yang disuruh Tuginem itu langsung menuju lokasi dan menjalankan perintah Tuginem. Tapi ia kembali menoleh ke arah Tuginem yang mendekati Tugino.

Bujang melihat Tuginem berbicara dengan Tugino sambil menunjuk ke beberapa arah. Tugino mengangguk-angguk seperti setuju dengan apa yang dibicarakan istrinya. Sedangkan Bujang bingung, sedang apa perempuan berkacamata hitam dengan karyawannya, Tugino. Iapun menghampiri mereka berdua dan dengan sopan bertanya kepada Tuginem, “Ada apa, bu? Apa yang bisa kami bantu?” Tuginem menoleh kepada Bujang dan menjawab dengan bibir bawah dimajukan ke depan, “Lho, kamu di sana saja, jaga anak saya jangan sampai ia bikin berantakan lagi! Aku ini istrinya Tuan Tugino, dan aku ke sini menanyakan tentang perkembangan usaha ini dan memberikan beberapa saran agar penataan ruangan toko ini bisa lebih bagus kaya di Malaysia!” Mendengar ocehan Tuginem, Bujang terkejut. Dahinya menciptakan lekukan panjang kulit seperti buku tulis tipis tebal. Bujang langsung menatap Tugino. Raut wajah Tugino jadi pucat seperti Tape Bandung yang kematangan. Karena tidak mau terjadi keributan dan diperhatikan oleh pengunjung toko lainnya, Bujang menyingkir. Ia menuju ruang belakang, ruang kantornya sendiri. Belum sampai Bujang ke pintu ruangannya, Tuginem kembali berteriak, “Eh, Mas! Kalo disuruh pake otak dong! Saya nyuruh kamu jagain anak saya, bukan ke situ!” Tapi Bujang tak menghiraukan cecaran Tuginem. Ia langsung masuk ke ruangannya dan mengetik surat.

Tugino minta Tuginem agak sopan sedikit dengan lelaki yang tadi dibentak-bentaknya. Tugino menyatakan kalau Bujang itu adalah bossnya. Tuginem terbelalak, dan memprotes Tugino, “Lha, kamu bilang kamu sekarang buka usaha sendiri dengan modal hasil togel 4 angka 20 lembar. minggu yang lalu kamu nggak pulang empat hari karena kamu bilang rapat, rapat apa rapet? Sama siapa? Hayo ngaku!” Percekcokan suami istri itu makin menjadi-jadi. Segala hal yang ada pada perasaan Tuginem dihamburkan ke muka Tugino, segala yang ada pada pikiran Tugino dihempaskan ke muka Tuginem. Mulai dari urusan pekerjaan, gaji, menganggur, pernah kerja di luar negeri, ingin kembali ke luar negeri, hingga urusan privasi mereka berdua, diungkapkan dengan suara lantang tanpa menyadari kalau perilaku mereka membuat pengunjung seisi toko buyar. Tapi ada juga sih beberapa ibu-ibu yang ikut menyaksikan siaran langsung tersebut. Sedangkan anak-anak Tugino dan Tuginem masih asyik bermain pada dunianya masing-masing.

Tugino rupanya berbohong kepada Tuginem. Ia memang menang togel, tapi hanya dua angka dan dua lembar saja. Ia terlibat janji dengan Inah pelayan warteg untuk mengantarkannya pulang kampung ke Tegal. Untuk kesibukan barunya itu, Tugino yang juga baru mendapat tawaran kerja dari Bujang beralasan kalau Kepergiannya dengan Inah dalam rangka rapat membangun toko kelontong dengan modal uang hasil pasang togel 4 nomor 20 lembar. Hebat sekali, mana pernah ada orang yang menang togel sebesar itu. Dari zaman pertama kali Togel dan sejenisnya dilaunching, belum pernah ada orang yang jadi kaya raya, kecuali bandarnya saja.

Tuginem yang merasa suaminya selalu jujur, ya percaya saja dengan “cerpen” Tugino tentang orang miskin yang menang togel lalu punya toko kelontong. Sikapnya yang seperti nyonya besar tadi karena yakin kalau suaminya memang benar telah membuka toko yang memang sudah kelihatan sendiri oleh matanya. Saking bangganya dengan kesuksesan suaminya, ia merasa bahwa derajatnya meningkat dan bisa seenaknya menyuruh anak-buah suaminya. Tuginem rupanya kepingin sekali-kali jadi majikan, seperti yang pernah ia rasakan ketika menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia dulu, dia sering diomelin sama majikannya. Dan ia berpikir saat ini, setelah suaminya jadi boss toko kelontong, iapun bisa bersikap seenaknya seperti majikannya dulu di Malaysia.

Bujang kembali keluar dari ruangannya dengan selembar surat yang telah ditandatanganinya. Tuginem memandang Bujang yang makin mendekat. Senyum Tuginem menanti kedatangan Bujang. Tapi buat Bujang, senyum itu malah membuat dunia ini semakin gelap. Beda dengan Tugino, ia menganggap senyum istrinya itu adalah sebagai salah satu “tanda-tanda akan datangnya hari kiamat”. Ia yakin kalau surat yang dibawa Bujang adalah surat pemecatan untuk dirinya. Tugino sempat meminta maaf kepada Bujang, beberapa detik sebelum Bujang menyerahkan surat itu kepadanya. Tapi Bujang hanya meminta Tugino membaca suratnya tersebut. Tuginem masih melayangkan senyumnya kepada Bujang.

Tugino membaca surat itu dari awal hingga akhir, yaitu tanda tangan Bujang. Ia kembali meminta maaf dan memohon agar Bujang tidak mengeluarkannya dari sini. Tapi Bujang sudah terlanjur kecewa dengan sikap Tuginem. Bujang menyatakan kalau surat keputusan pemecatan itu didasarkan hanya pada satu sebab, yaitu karena : Tuginem! Sedangkan Tuginem masih saya melayangkan senyumnya kepada Bujang. Kacamata hitamnya disangkutkan di atas dahinya.

Tanpa bersalaman dengan Bujang, Tugino melesat keluar meninggalkan toko, istrinya, dan anak-anaknya. Tuginem panik dan menyusul suaminya. sedangkan anak-anaknya masih asyik bermain pada dunianya masing-masing. Bujang makin menggeleng-gelengkan kepala. Ia kembali masuk ke ruang kerjanya dan menyalakan komputernya lagi. Tapi ia bukannya mau bikin surat buat anak-anak Tugino. Dia stress berat dan langsung saja online untuk menikmati situs “pemandangan alam”.

17 Januari 2005

3 Juta, Habis

Berita tentang gempa dan badai tsunami di Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, negara-negara tetangga dan sekitarnya tidak membuat perasaan Tuginem terharu. Ia merasa kalau nasibnya tetap saja lebih buruk ketimbang orang lain. Karena itu ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tuginem tak peduli sama sekali kalau tetangganya super-sibuk menjadi anggota relawan untuk posko bantuan bencana gempa dan tsunami itu. Setiap hari ia rumahnya selalu dilewati oleh orang-orang yang berlalu-lalang ke posko, untuk memberikan bantuan sepunyanya ataupun untuk mengirimkan hasil pengumpulan bantuan itu ke posko utama di kelurahan. Tuginem sama sekali tak terganggu dengan suara ribut dan mondar-mandir orang-orang di depan rumahnya. Ia asyik nonton film dari VCD player dan TV 14” yang baru dibelinya seminggu ini.

Tugino tidak pulang seminggu ini karena sibuk menyelesaikan pekerjaan renovasi rumah di Tangerang. Ia hanya pulang minggu kemarin memberikan uang untuk dipegang Tuginem, untuk biaya makan anak-anak mereka. Tugino sangat mencintai Tuginem. Ia rela bekerja membanting tulang belulangnya demi untuk istri dan anak-anaknya, terutama agar istrinya tidak kembali lagi menjadi Tenaga Kerja Wanita ke negeri seberang.

Si Sulung, anak pertama pasangan Tugino dan Tuginem sibuk menyuapi si Bungsu. Si Tengah tidak ada di rumah. Ia sibuk membantu mengangkat barang-barang bantuan di Posko. Si Tengah mestinya sekolah di kelas 3, tapi karena tidak punya biaya sekolah, terpaksa “sekolah” di jalanan
saja. Si Sulung juga sudah tidak sekolah. Seharusnya dia kelas 4 SD. Berhubung dia harus selalu menjaga adik bungsunya, maka dia tak punya waktu untuk belajar di sekolah. Ia menghabiskan hari-harinya untuk belajar di rumah, belajar menjadi pengasuh anak. Adik bungsunya sangat lulut padanya. Bahkan untuk makan dan minum saja, hanya mau dibuatkan oleh kakaknya. Si bungsu yang belum berumur 2 tahun, kurang begitu kenal dengan ibunya sendiri. Mungkin karena ibunya terlalu sibuk mengurus diri jadinya mereka kurang akrab. Sambil tiduran, Tuginem masih asyik nonton film india favoritnya…

Menjelang maghrib Tugino pulang dengan membawa bungkusan berisi martabak telor kesukaan istri dan anak-anaknya. Ia senang sekali karena proyek renovasi sudah selesai dikerjakan dalam seminggu ini. Ia berharap bisa istirahat dan menikmati uang hasil jerih payahnya yang dikumpulkan setiap minggu kepada istrinya.� Si bungsu langsung saja memanjat badan Tugino. Ia kangen sekali pada ayahnya. Si Sulung membuka bungkus martabak telor dan mengambil potongan pertamanya. Si tengah belum pulang, mungkin seperti malam kemarin, tertidur di posko. Tuginem masih asyik dengan film koleksi film india yang disukainya.

“Anak-anak sudah didaftarkan sekolah, Nem?” tanya tugino kepada istri yang sangat dicintainya. Tuginem menggelengkan kepala. Matanya tetap tertuju pada layar TV karena bintang pujaannya sedang beraksi.

“Kenapa belum? Kan aku sudah berikan uang cukup untuk melunasi tunggakan SPP mereka.” Tugino butuh penjelasan. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya bulan ini sangat lumayan. Ditambah dengan uang hasil pasang togel, sebesar tiga juta rupiah, ia merasa cukup untuk membiayai kembali sekolah kedua anaknya. Tapi Tuginem tidak memberikan penjelasan. Ia terlalu sibuk dengan barang barunya. “Kapan belinya TV dan VCD itu?” tanya Tugino. Ia baru menyadari kalau ada barang baru di rumahnya. Selain dua perangkat elektronik itu, berjejer baju-baju baru milik istrinya, bertumpuk makanan dan minuman kaleng di atas meja. Ada juga tiga setel kaos oblong putih untuk ketiga anaknya. Tugino berpikir, jangan-jangan uang hasil kerja keras yang disetorkannya setiap minggu tak tersisa. Ia minta Tuginem mematikan TV dan bicara serius dengannya. Sambil mengeluh malas, Tuginem mematikan tontonannya dan duduk di depan suaminya. Tugino mulai dengan pertanyaan, “Uang gaji saya masih ada?”

Tuginem menjawab, “orang lagi asyik istirahat sambil nonton kok diganggu sih!”

Sambil memangku si Bungsu, Tugino bilang, “sisa berapa? Anak-anak dibelikan apa? Apa si Sulung dan Tengah sudah didaftarkan sekolah lagi?”

Tuginem menjawab sambil mengangkat tangannya ke atas, merenggangkan ototnya yang kaku, “ehhhmmuach…” Tuginem menguap juga. Ia kembali merebahkan tubuhnya di depan TV sambil menjelaskan kepada suaminya kalau uang yang dipegangnya sudah habis dibelikan semua barang yang bisa dilihat sendiri oleh Tugino di kontrakan sekamar ini.

Tapi tugino berhitung-hitung dan yakin kalau masih ada sisa tiga juta rupiah. Ia bertanya pada istri tercintanya, “uang yang tiga juta sudah dipakai untuk daftar sekolah anak-anak? Sisanya masih ada kan?”

Tuginem menggelengkan kepalanya lagi. Ia bilang kalau uang yang tiga juta itu habis untuk makan seminggu. Ia beralasan kalau selama ini belum pernah makan enak. Ia juga bilang kalau ingin sekali merasakan makanan enak seperti yang pernah dinikmatinya waktu masih bekerja di negeri jiran. Karena itu setiap hari ia membawa anak-anaknya makan fastfood di mall. Untuk makan malam kadang pesan friedchicken, pizza, cheeseburger, dan setiap pagi pasti beli donat dan susu segar.

Tugino duduk mematung. Ia hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan istri tercinta. Si bungsu sudah tertidur pulas di pangkuannya. Si Tengah sudah pasti jarang pulang. Si Sulung sejak menelan potongan ke-empat martabak telor langsung tertidur pulas di bawah jendela.

Sebenarnya Tugino mau marah, tapi sudah seminggu ia “puasa”. Apalagi Tuginem sudah celentang di depannya…

Cihideung Forest, 8 Januari 2005

Sumpek

Tuginem baru pulang dari Malaysia. Ia termasuk tenaga kerja ilegal yang dipulangkan pemerintah. Sebenarnya hatinya kesal sekali,  sebab belum 6 bulan ia merasakan hidup di luar negeri. Sebuah kehidupan yang jauh berbeda dengan kampungnya. Kehidupan yang menurutnya lebih baik, lebih layak, dan lebih menjanjikan. Walaupun ia hanya sekedar bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tapi gajinya lumayan besar. Perbandingannya, satu bulan gaji di sini adalah empat atau lima bulan gaji di kampungnya.

Tuginem baru saja mau berubah dari orang kampung yang ngomongnya medhok, jadi orang metropolis yang kadang-kadang english speaking. Beberapa kali suaminya bingung mendengarkan dia cerita melalui telepon. Logatnya sudah seperti orang-orang melayu campur bule. Suaminya, Tugino, hanya mengangguk-angguk saja ketika Tuginem menanyakan kabar anak-anaknya yang ditinggalkan bersama suaminya. Tugino sesekali menyela, “kamu ngomong apa sih? Aku ndak ngerti maksute!” Tuginem juga tak mengerti lagi bahasa Tugino, hingga ia menutup telepon karena takut pulsanya bengkak.

Tugino kembali ke kontrakan satu kamar, melanjutkan masak dan cuci pakaian anak-anaknya yang super aktif. Sehari, tiga orang anaknya, yang bungsu berumur 2 tahun kurang, yang tengah 6 tahun, sedangkan yang sulung baru 8 tahun, bisa gonta-ganti pakaian lebih dari tiga kali. Mereka senang sekali main di sawah, di pinggir kali, atau di TPA. TPA bukannya Taman Pengajian Al-Qur’an, tapi Tempat Pembuangan Akhir sampah dari Ibukota Negara, Jakarta. Lumayan, kalo main di TPA, bisa menemukan mainan rombeng. Karena bapaknya jelas tak mampu membelikan mainan. Tugino hanya kuli yang bekerja kalau ada tetangga yang mau renovasi rumah. Tapi sejak krisis moneter hingga krisis budaya saat ini, jarang sekali ada orang yang renovasi rumah. Paling banter, Tugino hanya membetulkan Pos Ronda atau Warung-warung kecil di pinggir jalan.

Sebenarnya sejak sebelum berangkat, Tugino tak menyetujui rencana Tuginem untuk mengadu nasib di Negeri Malaysia. Ia lebih suka istrinya tinggal di rumah mengasuh anak-anaknya. Apalagi si bungsu masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Tapi karena sudah tergiur oleh cerita indah dari calo agen pengiriman TKI tentang perubahan nasib setelah ke luar negeri, Tuginem minta suaminya mengerti kalau ia ingin mengubah nasih keluarga. Ia tak mau berlama-lama tinggal di kontrakan satu kamar seperti beberapa yang telah ia jalani. Ia ingin punya rumah sendiri, ingin anak-anaknya bisa tampil necis seperti anak-anak tetangga lainnya. Tugino maunya melarang, tapi setelah Tuginem bilang ia tak bisa diharapkan untuk mengubah nasib, akhirnya ia mengalah untuk membiarkan istrinya pergi, sambil ngomong, “terserah!”

Kini Tuginem sudah berkumpul kembali bersama keluarganya. Ia kembali ke rumah kontrakan satu kamar. Tugino senang karena istrinya kembali. Ia punya harapan kalau kini anak-anaknya ada yang mengasuh lagi dan dia bisa kembali bekerja keras mencari selembar uang atau paling sial sekerat roti. Anak-anaknyapun kembali ceria. Si sulung tak mau lepas dari pelukan ibunya. Si tengah menggelendoti punggung ibunya, sedangkan si kecil berdiri di samping bapaknya melongo melihat tingkah kakak-kakaknya.

Tuginem duduk melonjor di tikar, menyandarkan punggungnya ke tas koper bawaannya, melepas lelah. Tugino duduk di depannya, mendengarkan istrinya bercerita tentang segala hal tentang kehidupan di Negeri Malaysia. Tuginem bercerita tentang apartemen tempat dia tinggal bersama beberapa teman sekariernya, tentang makanan favorit barunya, tentang acara TV yang tak pernah ditontonnya, tentang tempat-tempat hiburan, pusat perbelanjaan, dan segala hal yang bagus-bagus yang tidak pernah dirasakan suami dan anak-anaknya. “Bet naw, ai muleh egen di mari. Ta’ de semenet, ai sudah sumpek!” tutur Tuginem mengakhiri ceritanya.

Tugino sebenarnya kesal melihat istrinya bicara dengan bahasa campur aduk yang ia tak mengerti. Sepertinya yang dihadapannya bukan istrinya yang dulu. Padahal kurang dari 6 bulan ia tak melihat istrinya, tapi sudah banyak berubah. Yang bikin Tugino rada kesal, adalah kata terakhirnya itu, “Sumpek!”. Padahal sebelum pergi ke luar negeri, keadaan di kamar ini lebih sumpek dari sekarang. Maklum, Tugino lebih rajin berbenah ketimbang istrinya. Tapi, tak apalah, siapapun istrinya sekarang ini, yang penting Tugino sudah tak lagi “Puasa” berbulan-bulan. Tugino khawatir kalau terlalu lama “puasa”, produksinya berubah jadi odol kering… he.. he..

12 November 2004