Kopdar Dadakan Penuh Didikan

Jum’at, 28 Mei 2010 aku berencana menerima teman-teman dari ICDW di Luar Bogor. Seperti biasa, kami akan membahas perkembangan progres kegiatan setiap anggota. Masih banyak waktu luang sebelum masuk pada agenda meeting, kudapatkan kontak dari seorang blogger favoritku, udinkoxx. Ia bilang mau kopdar denganku, di tempatku, Bogor.

Sungguh sebuah kehormatan dan kebahagiaan mendapatkan kunjungan dari Udinkoxx yang setia setiap saat bersama istrinya yang hebat. Pukul 15:40 ia datang dengan sebuah Toyota Corolla 87 yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kondisi fisiknya. Pernah ada temannya yang bertanya, bagaimana caranya, bang Udin yang sejak usia 10 tahun memakai kursi roda, bisa mengendarai mobilnya sendiri? Bagaimana ngerem dan ngegasnya, padahal kedua kakinya lumpuh?

(more…)

Pesantren dituduh Sarang Radikalisme (Terorisme)

Sempat beredar isu bahwa pesantren adalah tempat berkecambahnya radikalisme. Isu ini bahkan sempat disikapi oleh pemerintah dengan rencana lucu (yang gagal) untuk memeriksa sidik jari para santri pesantren di Indonesia. Belum lagi ditambah dengan kecurigaan dunia Barat – yang dimotori oleh Amerika Serikat pasca Tragedi 11 September – yang secara gencarnya menuduh radikalisme/terorisme, dengan slogan ‘are you with us or with them-terrorist-‘, yang menuding lembaga-lembaga pendidikan tradisional Islam, seperti madrasah dan belakangan juga pesantren dianggap sebagai the breeding ground, tempat perkecambahan radikalisme.

(more…)

ke Jogja untuk Deradikalisasi

logo-icdw-kecil

Aku ngumpul dengan teman-teman ICRS UGM yang mengundangku ke Jogja. Mas Ali Amin yang paling kukenal. Ia orang ICRS yang selalu menjadi penghubungku dengan jaringannya yang lain. Ada mbak Inayah, dosen IAIN Sunan Kalijaga, dan Prof. Mark Woodward dari Arizona University.

Kami ngerumpi tentang fundamentalisme, radikalisme, dan deradikalisasi. Mereka membuka obrolan dengan mengangkat sebuah pertanyaan, “faktor apa yang bisa mempengaruhi seorang radikal bisa berubah menjadi moderat?” Itu pertanyaan serius bagi teman-teman di dunia Barat sana. Bahkan ada juga kalangan Barat yang tak yakin jika ada orang radikal bisa berubah jadi “orang biasa-biasa saja”. Mereka cukup terkejut membaca buku berjudul Jihad Terlarang yang kutulis. Buku itulah yang menjadi pemicu terjadinya dialog ini, setelah setahun sebelumnya juga menjadi obrolanku dengan Mr. Ken Ballen dan mas Andi Hutomo dari  terrorfreetomorow.

Kupaparkan kisah lalu. Mulai dari isu terorisme, tragedi yang dilakoni oleh mereka yang disebut sebagai kaum radikal/fundamentalis, realitas gerakan islam di negeri ini pada zaman orde lama, orde baru, orde reformasi, orde spekulasi, hingga orde “hare gene”. Aku menghanyutkan arus obrolan pada kesalahpahaman banyak orang yang menganggap peran pesantren sebagai sarang teroris.

Menurutku, perkembangan Islam di negeri ini tumbuh dengan harmoni yang dibangun oleh pesantren. Pesantren telah terbukti berhasil menanamkan jiwa manusia Indonesia yang memiliki rasa keberagamaan dan kebangsaan yang tidak radikal. Kusinggung sedikit tentang peran walisongo yang telah berhasil melakukan dakwah Islam tanpa provokasi, agitasi, apalagi iritasi :D

Jikalau ada jebolan pesantren yang terlibat dalam gerakan radikal, biasanya mereka terekrut ketika sudah keluar. Pihak pengelola pesantren biasanya tak pernah terlibat dalam terorisme. Kecuali memang pesantren yang dibuat oleh tukang teror. Tapi pesantren seperti itu bukanlah warisan tradisi pesantren di Nusantara.

Pada obrolan santai itu, kusampaikan kesimpulanku. Faktor yang mempengaruhi perubahan sikap seorang radikal menjadi moderat adalah 80% internal 20% eksternal. Begitupun dengan istilah fundamental dan radikal, yang tak selalu terkait dengan terorisme. Orang pesantren itu sebenarnya fundamentalis. Bahkan ada juga yang radikal dalam beberapa hal. Tapi tidak mesti mereka terkait dengan terorisme.

Salah satunya adalah pesantren daarul uluum Bogor, yang menjalankan program ICDW (Indonesian Center for Deradicalization and Wisdom). Sudah banyak para mantan anggota gerakan radikal yang berpotensi menjadi teroris, direhabilitasi di pesantren tersebut hingga kembali menjadi orang biasa. Minimal menjadi lelaki yang bertanggungjawab terhadap keluarga yang dicintainya.