Garis Kuning, Impian Bocah Naif

Semalam aku baru ngeh kalau jumlah loket tol di KM 18 Jagorawi ada 18 loket. Ini memang tulisan sepele. Hanya temuan nggak sengaja itu yang utamanya ingin kusampaikan. Tetapi lebih dari itu, ada perasaan khusus padaku tentang jalan Tol Jagorawi. Sebuah jalan yang pernah kuimpikan untuk melintas di atasnya ketika masih kecil dulu. (more…)

Blogger dan Semangat Obor Sea Games 2011

Kebanggaan menjadi tuan rumah SEA GAMES ke-26 terlihat sekali kalangan pegiat media sosial. Kicauan tentang #AyoIndonesiaBisa di twitter tiada henti hingga kini. Namun para pekicau tidak hanya menunjukkan dukungannya kepada Indonesia dengan ‘nge-tweet‘ saja. Tidak sedikit pula teman-teman yang mengunggah foto maupun video yang mereka ambil sendiri dengan tema yang sama: SEA GAMES. (more…)

GOT

selokan-sampahDi Jakarta, sepanjang perjalananku, kulihat banyak selokan di setiap sisi jalan. Yang besar maupun yang kecil. Selokan atau got adalah satu-satunya cara atau tempat yang tepat untuk mengaliri air pembuangan dari rumah-rumah, perkantoran, pusat perbelanjaan, WC umum, dan semua tempat yang di dalamnya dibutuhkan air oleh penghuninya.

Kalau begitu adanya got vital sekali. Bukannya aku mencari-cari sebab untuk memusingkan kepala yang sudah penat dengan segala permasalahan yang menekan. Tapi memikirkan tentang got ini spontan muncul begitu saja. (more…)

Arus Kali Ciliwung Menderas

ciliwung-251109

Pagi ini - 25 November 2009 - Kali Ciliwung di depan rumahku meluap. Deru suara arusnya lebih tinggi dari biasanya. Hujan semalaman kukira menjadi penyebab meluapnya kali/sungai yang menjadi indikator kewaspadaan Jakarta terhadap banjir.

Rumahku berada setelah bendungan Katulampa, Bogor. Posisinya tepat di pinggir kali. Jadi, kondisi kali hampir setiap hari selalu kuperhatikan. Karena hanya itulah pemandangan terindah ketika aku duduk santai di depan rumah.

Satu hal yang kuperhatikan dari derasnya arus kali adalah, banyak sekali sampah plastik yang hanyut. Ini membuktikan masih banyak manusia yang membuang sampah ke kali. Apakah mereka (warga Bogor) tak sadar, jika ulah semaunya itu dapat menyebabkan kesengsaraan bagi saudara sebangsa di DKI Jakarta?

Jika kita menganggap sampah yang kita buang tak seberapa dibanding arus sungai - misalnya hanya sebungkus sampah plastik berisi sisa makanan busuk atau apapun - cobalah anda bayangkan jika ulah itu kita lakukan berulang kali. Untuk lebih sadar, cobalah sekali-sekali kita buang sampah plastik itu di depan rumah saja. Belum seminggu, pasti kita sudah tersiksa dengan kebusukan yang menyiksa. Karena itu, please orang bogor! Tolong ingatkan saudara-saudara kita agar tidak membuang sampah ke kali. Buang saja sampah anda ke saluran aspirasi rakyat (DPR/MPR) tempat sampah yang ada di sekitar rumah.

Tak Kulihat Betawi di Jakarta

topeng betawi

topeng betawi

Jakarta adalah wilayah yang sempit dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Luas Sempit wilayahnya hanya 740,28 km2. Namun dibalik kecilnya kota Jakarta, terdapat keragaman budaya.  Kita bisa berkenalan dengan berbagai kebudayaan nusantara maupun dunia di kota ini. Karena itu cukup pantas jika Jakarta dijuluki sebagai Kota Lintas Budaya.

Kebudayaan awal yang berkembang di Jakarta adalah kebudayaan Melayu. Kulturalisasi itu dimulai pada Abad ke-6 Masehi, saat Kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan Tarumanegara di Utara Jakarta. Masyarakat Jakarta saat itu yang lebih dominan berbudaya Sunda mulai mengalami persilangan budaya dengan Melayu.

Pada 1512 Raja Surawisesa (Kerajaan Sunda) mengizinkan Portugis untuk membentuk komunitas di Sunda Kelapa. Sejak itu, perkawinan dengan budaya Portugis dimulai. Keroncong adalah salah satu bentuk kebudayaan Portugis yang menjadi kebudayaan orang Jakarta.

Kebudayaan lain yang juga melintas dalam sejarah Jakarta adalah Gujarat, Malabar (India) Tionghoa, Campa, Persia, Arab, Malaka, Bugis, Bali, Sumbawa, Ambon, Banda, dan kebudayaan Nusantara lainnya. Bahkan pada era kolonialisme Belanda, kebudayaan Eropa turut memperkaya khasanah dan perkawinan budaya Jakarta. Dari persilangan beragam budaya itulah, kebudayaan Jakarta - yang sejak pada tahun 1923 baru dikenal dengan sebutan Betawi setelah M. Husni Thamrin membentuk Perkoempoelan Kaoem Betawi - terbentuk.

Makin berkembang zaman, makin berkembang pulalah kebudayaan Jakarta. Melihat Jakarta sekarang, seperti kita melihat budaya metropolis. Akupun akhirnya merenungkan, seperti apakah sebenarnya jati diri orang Jakarta? Dimanakah bisa kita lihat lagi, kebudayaan Betawi, yang terbentuk dari keragaman persilangan budaya?

Ketika aku ke Jogjakarta, budaya Jawa begitu terlihat di beberapa titik kota. Ketika aku ke Bali, jelas pula kunikmati budayanya. Masyarakat di kota-kota yang kukunjungi, hidup dengan kebudayaannya sehari-hari. Namun “view“seperti itu tak kulihat di Jakarta. Tak kulihat Betawi di Jakarta. Ataukah memang Betawi telah berubah semakin molek dengan beragam kultur yang masuk setiap detik? Atau, Kaoem Betawi terpinggirkan karena tak mendapatkan tempat di hati generasi muda Jakarta?

Kurenungkan hal ini, saat Jakarta berusia 482 tahun. Semoga budaya Betawi tak terhimpit, tergilas, dan terkubur, oleh deru bising ragam budaya metropolitan.

Dari Gerbong #2 KRL

Setengah melompat aku naiki KRL (Kereta Rel Listrik) yang baru saja beranjak dari Stasiun Kota. Aku masuk di gerbong urutan kedua. Ramai sekali. Maksudku, tetabuhan perkusi tukang ngamen membuat seisi ruang menjadi riang, senang, girang, dan … goyang.

Tapi tunggu dulu. Ternyata di tengah gerombolan orang-orang yang goyang itu. ada seorang maskot goyang. Dia seorang perempuan, sepertinya karyawan sebuah perusahaan atau apalah. Aku lihat itu dari pakaiannya yang sama dengan yang dikenakan temannya. Yang lainnya juga begitu, ada karyawan, ada mahasiswa, pelajar, pedagang, pengangguran, dan juga pengarang. Mungkin copet juga ada.

Semua orang tertarik untuk mengikuti irama dangdut yang dimainkan pengamen KRL. Aku juga tertarik. Otomatis kakiku mendekati kerumunan itu. Satu lagu, dua lagu… aku senang saja berbaur dengan mereka. Setelah itu… Opps! Ada satu orang yang ternyata berkeliling menyodorkan bungkus permen yang minta diisi dengan ratusan ataupun ribuan. Aku beri seribu. Tak rugilah, buat menghibur perjalanan pulang yang padat ini. Paling tidak, lambat, padat, dan semwarutnya KRL jadi tak terasa.

”Namenya mba Ida” kata salah seorang ibu-ibu rada tua di sebelahku dengan logat Betawi Bekasi. Rupanya dia tahu kalau aku memperhatikan maskot goyang di gerbong 2.

Aku mengangguk dan tersenyum kepada ibu-ibu rada tua di sebelah kananku. Memang sedari awal fokus pandanganku tertuju pada maskot itu, mba Ida itu. Aku rada heran melihat penampilannya. Menurut perkiraanku, usianya sudah di atas 35 tahun. Sepertinya dia juga sudah punya suami dan anak. Tapi mengapa dia masih doyan goyang di tempat umum?

”Ude biase! Tiap hari, di kereta nyang jam enem, pasti die goyang di gerbong 2. lumayan sih, dapat saweran. Trus dibagi dua deh sama tukang ngamen yang dicarter.” masih ibu-ibu rada tua di sebelah kananku yang memberikan info.

Aku mengangguk dan tersenyum lagi kepadanya. Mba Ida masih goyang. KRL baru sampai stasiun Kramat. Tak ada lagi penumpang yang masuk. Pintu KRL yang selalu terbuka sudah tertutup rapat oleh badan penumpang yang sudah berdesakan sejak dari stasiun Kota.

”Orang-orang yang di gerbong 2 udah tau semua, kalau tiap sore ada tongtonan mba Ida. Rata-rata mereka turun di Cakung, Kranji, atawe Bekasi. Kalau mba Ida sih, kadang turun di Kranji kadang di Bekasi. Rumenya sih, di Kranji. Tapi die mao aje goyang ampe Bekasi kalau ada bapak-bapak yang boking.” Ibu-ibu rada tua di sebelah kananku ini makin semangat menceritakan perihal mba Ida. Sepertinya dia kenal dengan maskot goyang itu.

”Kalo cuman ngandelin gaji doang, mane cukup buat ngidupin anak sama lakinye! Lha, anaknye empat, lakinye tukang supir angkot, tapi kerjaannye mabok melulu! Saye Kesian sebenere sama mba Ida. Die begitu lantaran lakinye kaga tau diri.”

”Coba aje bayangin om,” lho, aku kini dipanggil om ”mba Ida kerja dari pagi ampe sore cuman nungguin toko baju doang di Pasar Pagi. Emang sih, toko si ngkoh, bosnye mba ida itu paling gede di Pasar Pagi. Tapi tau sendiri dah, berape sih gaji tukang jagain toko?!” Ibu-ibu rada tua ini bicara sambil menyenggol lenganku agar aku memperhatikannya bicara. Memang kepalaku bolak balik antara narasumber dan obyek beritanya, antara ibu-ibu rada tua dan mba ida yang tak kelihatan lelah bergoyang sedari tadi.

Aku lihat petugas pembolong karcis kereta baru datang dari ujung gerbong. Rupanya dia mulai mengecek karcis penumpang dari gerbong belakang dahulu. Satu dua karcis dibolongi. Satu dua ribuan dikantongi, satu dua orang bilang ”abun” artinya dia adalah pelanggan karcis terusan alias abonemen. Sampai di dekatku, dia tak lagi menagih karcisku dan orang-orang yang ada dalam lingkaran dangdut. Dia ikut tersenyum dan tertawa bersama dengan penumpang lainnya.  Kini dia ikutan bergoyang.

”Kondektur sih ude paham bener. Die ude kenal sama semua orang di gerbong 2. kite-kite kaga bakalan ditagih karcis. Lha saye aje, seumur-umur, belon pernah ngalamin beli karcis. Abis dari dulu ude kenal sih.” kulihat bibirnya makin monyong saja, ibu-ibu rada tua ini.

KRL sudah sampai di stasiun Cakung. Aku dan beberapa penumpang segera turun dari kerumunan rakyat kecil di KRL gerbong 2 ini. Sementara mba Ida masih asyik bergoyang. Seragam tokonya sudah basah karena keringat. Aku melompat lagi seperti ketika pertama kali naik KRL ini.

Cakung, 7 September 2005

Got

Di Jakarta, sepanjang perjalananku, kulihat banyak selokan di setiap sisi jalan. Yang besar maupun yang kecil. Selokan atau got adalah satu-satunya cara atau tempat yang tepat untuk mengaliri air pembuangan dari rumah-rumah, perkantoran, pusat perbelanjaan, WC umum, dan semua tempat yang di dalamnya dibutuhkan air oleh penghuninya. 

Kalau begitu adanya got vital sekali. Bukannya aku mencari-cari sebab untuk memusingkan kepala yang sudah penat dengan segala permasalahan yang menekan. Tapi memikirkan tentang got ini spontan muncul begitu saja.

Bisa dibayangkan, betapa kotornya suatu daerah, misalnya Jakarta, kalau tidak ada got. Air pembuangan akan menyebar kemana saja yang memungkinkan sebagai tempat penampungan. Dan tempat-tempat yang lebih rendah, lubang di sekitar jalan rumah, pasar, gedung bertingkat, dan sebagainya adalah penampungan terakhir. Kotor sekali jadinya Jakarta ini. Belum lagi kuman-kuman yang mengundang penyakit. Di situlah tempatnya.

Mungkin kamu pernah ke pasar tradisional di pinggiran kota. Selalu saja ada jalan becek. Ngeri sekali kalau aku harus melewatinya dan merendam sepatuku di genangan air itu. Memang pada musim kemarau jarang terlihat genangan air. Mungkin akibat panas yang semakin menyengat membuat daya serap tanah makin kuat. Sialnya, mentang-mentang genangan air tak kelihatan, penduduk Jakarta masih sembarangan saja membuang sampah. Ternyata peraturan “Dilarang Membuang Sampah Sembarangan” hanya jadi pelengkap rambu-rambu saja.

Di salah satu terminal bis kota pernah kulihat tiang pelarangan itu berdiri tegak di antara sampah-sampah yang bertebaran dan mojok di sudut-sudut terminal. Aku tidak yakin kalau orang-orang yang lalu-lalang di terminal itu tidak bisa membaca. Atau mungkin masyarakat Jakarta ini bodoh? Tak tahulah. Yang jelas, sekolah, perguruan tinggi, makin ramai didirikan, media massa makin beragam dan canggih, mulai dari media cetak hingga elektronik. Tapi kenapa masyarakat masih saja bodoh bahkan untuk kelangsungan hidupnya sendiri? Barulah kalau hujan mulai turun, mereka terkejut oleh berita tentang ancaman banjir.

Banjir itulah satu-satunya musibah yang bisa mengingatkan bahwa got itu sangat penting dirawat. Got itu bukannya tempat penampungan air buangan. Got itu hanya saluran yang mengalirkan air buangan menuju sungai, lalu ke muara, hingga ke laut. Lebih parah lagi kalau got itu dianggap sebagai tempat sampah. Sekali lagi, got itu saluran, bukan penampungan! Jangan kita salah memperlakukannya. Saluran itu harus dirawat agar apa yang kita salurkan sampai ke tempat yang semestinya. Kalau saluran dijadikan sebagai tempat penampungan, wajar saja kalau mampet terus. Apalagi sampah budaya saat ini makin beragam. Kalau salurannya macet atau mampet, maka “sampah kebudayaan” itu akan menjadi ancaman bagi semua pihak. Maka dari itu, sejak dini got harus dirawat sesuai fungsinya. Begitu saja tulisan tentang got.

8 Oktober 1997