ke Jogja untuk Deradikalisasi

logo-icdw-kecil

Aku ngumpul dengan teman-teman ICRS UGM yang mengundangku ke Jogja. Mas Ali Amin yang paling kukenal. Ia orang ICRS yang selalu menjadi penghubungku dengan jaringannya yang lain. Ada mbak Inayah, dosen IAIN Sunan Kalijaga, dan Prof. Mark Woodward dari Arizona University.

Kami ngerumpi tentang fundamentalisme, radikalisme, dan deradikalisasi. Mereka membuka obrolan dengan mengangkat sebuah pertanyaan, “faktor apa yang bisa mempengaruhi seorang radikal bisa berubah menjadi moderat?” Itu pertanyaan serius bagi teman-teman di dunia Barat sana. Bahkan ada juga kalangan Barat yang tak yakin jika ada orang radikal bisa berubah jadi “orang biasa-biasa saja”. Mereka cukup terkejut membaca buku berjudul Jihad Terlarang yang kutulis. Buku itulah yang menjadi pemicu terjadinya dialog ini, setelah setahun sebelumnya juga menjadi obrolanku dengan Mr. Ken Ballen dan mas Andi Hutomo dari  terrorfreetomorow.

Kupaparkan kisah lalu. Mulai dari isu terorisme, tragedi yang dilakoni oleh mereka yang disebut sebagai kaum radikal/fundamentalis, realitas gerakan islam di negeri ini pada zaman orde lama, orde baru, orde reformasi, orde spekulasi, hingga orde “hare gene”. Aku menghanyutkan arus obrolan pada kesalahpahaman banyak orang yang menganggap peran pesantren sebagai sarang teroris.

Menurutku, perkembangan Islam di negeri ini tumbuh dengan harmoni yang dibangun oleh pesantren. Pesantren telah terbukti berhasil menanamkan jiwa manusia Indonesia yang memiliki rasa keberagamaan dan kebangsaan yang tidak radikal. Kusinggung sedikit tentang peran walisongo yang telah berhasil melakukan dakwah Islam tanpa provokasi, agitasi, apalagi iritasi :D

Jikalau ada jebolan pesantren yang terlibat dalam gerakan radikal, biasanya mereka terekrut ketika sudah keluar. Pihak pengelola pesantren biasanya tak pernah terlibat dalam terorisme. Kecuali memang pesantren yang dibuat oleh tukang teror. Tapi pesantren seperti itu bukanlah warisan tradisi pesantren di Nusantara.

Pada obrolan santai itu, kusampaikan kesimpulanku. Faktor yang mempengaruhi perubahan sikap seorang radikal menjadi moderat adalah 80% internal 20% eksternal. Begitupun dengan istilah fundamental dan radikal, yang tak selalu terkait dengan terorisme. Orang pesantren itu sebenarnya fundamentalis. Bahkan ada juga yang radikal dalam beberapa hal. Tapi tidak mesti mereka terkait dengan terorisme.

Salah satunya adalah pesantren daarul uluum Bogor, yang menjalankan program ICDW (Indonesian Center for Deradicalization and Wisdom). Sudah banyak para mantan anggota gerakan radikal yang berpotensi menjadi teroris, direhabilitasi di pesantren tersebut hingga kembali menjadi orang biasa. Minimal menjadi lelaki yang bertanggungjawab terhadap keluarga yang dicintainya.

ningratri kopi

ningratriKurang mantap rasanya kalau ke Jogjakarta tanpa nongkrong melahap malam. Setelah selesai diskusi dengan teman-teman dari ICRS (Indonesian Concortium for Religious Studies) UGM aku langsung menuju Jl. Kaliurang KM 5.6, tempat warung kopi favorit teman-temanku yang stay di Jogja.

Nama warung kopi itu menjadi judul postinganku. Bagiku, nama tersebut amat klasik, sederhana, dan menarik. Apalagi jika melihat tulisan “nigratri kopi” pada plang di depan warung. Tipografinya menjejak pada gaya tulisan jawa, meskipun tetap latin. Ningratri kopi buka 24 jam. Kecuali malam jum’at, hanya sampai pukul 22.00 saja.

Suasananya akrab dan bersahabat. Sebelum memilih meja, aku memperhatikan beberapa kelompok anak muda endonesya yang asyik dalam obrolan. Lebih banyak yang berambut gondrong ketimbang model stik. Ada juga yang berjejer mengelilingi sebuah laptop. tatapan mereka fokus ke layar lappie itu. Setelah kulewati dan kulihat, ternyata mereka sedang serius memilih katalog film DVD. Di ningratri, pengunjung bisa melakukan transaksi. Seperti sekelompok anak muda yang terenggut konsentrasinya pada sekotak laptop itu.

ningratri-kopiKopiku sudah jadi. Tersedia di satu-satunya block meja yang kosong. Di situlah aku dan teman-teman DUC Jogja melahap malam. Yang menyediakan kopi juga anak muda pengelola warung ini. Sopan sekali caranya menawarkan kami menyeruput kopi.

Jika anda ke Jogja, coba deh ngopi di sini. Meskipun cuma punya uang ceban, bisa saja nraktir teman-teman. Karena harga kopinya jauh di bawah harga cafe/resto di Jakarta. Memang Jogya terkenal dengan jajanan murah, tapi kita bisa mendapatkan lebih dari sekedar jajanan, yaitu suasana yang akrab dan menyenangkan.