Bingkisan Tak Terduga di Malam Natal

Aku memang tak merayakan hari Natal karena aku muslim. Postingan ini kutulis karena ada kejadian yang membuat suasana di rumahku tambah meriah. Dan kebetulan momentum tersebut bertepatan dengan malam saat umat kristen di dunia merayakan Natal.

Setelah shalat maghrib bersama, anakku yang bernama Rastan (5 tahun) bertanya tentang Sinterklas. Aku menceritakan setahuku saja, bahwa Sinterklas adalah orang tua berjanggut putih yang pada saat Natal, memberikan bingkisan/kado kepada anak-anak yang baik. (Maaf buat kaum kristiani jikalau ceritaku ini salah). Itulah yang pernah kuingat dari buku cerita. “Hadiahnya apa, Yah?” tanya anakku yang memang sedang banyak bertanya segala hal yang baru diketahuinya. “Hadiahnya macam-macam. Ada yang sesuai dengan permintaan anak-anak yang baik itu, ada pula yang di luar dugaan” Jawabku. (more…)

Berduka untuk Theodore

theo-ishmah

Hari ini menjadi hari berkabung buat keluarga kami. Terutama buat anak perempuanku. Salah satu anggota keluarga kami, Theodore, mati.

Theo (panggilan kecilnya) adalah kucing yang paling berani di antara ketiga anak kucing yang tinggal di rumah kami. Ia selalu membela adik-adiknya, X dan Plenyun. Tentang Theo, pernah kutulis di cerita berjudul, Para Politisi, Belajarlah dari Kucingku.

Theo mati setelah kemarin melakukan pertikaian yang luar biasa. Ia bergelut dengan seekor ular yang memang sering lewat di depan rumah. Duel antara Theo melawan ular memang sering terjadi. Dalam kondisi seperti itu, biasanya X dan Plenyun menyelamatkan diri dengan menyelinap di belakang Theo. Dan selalu Theo yang berhasil mematikan ular, dengan menggigit kepalanya.

Siang itu ia sebenarnya berhasil membunuh ular yang sebelumnya membuat takut Plenyun dan seorang tetanggaku. Theo langsung menyergapnya. Dalam beberapa kali pertarungan, ular itupun mati. Namun, sebelumnya ular itu sempat menggigit mata kanan Theo. Inilah yang menyebabkan kematiannya. Meskipun ia sempat bertahan hingga satu hari. Dan hari inilah ajalnya menjemput.

Sedih tak bisa terbendung. Kin-Kin yang paling berduka. Ialah yang paling menyayangi Theodore. Semoga ia mendapatkan pengganti Theo… Sabar ya, nak!  Selamat jalan, Theo!

Politisi, belajarlah dari Kucingku!

Setelah hampir 3 bulan, tiga ekor anak kucing liar yang awalnya selalu ketakutan saat kuberikan makanan akhirnya mulai bisa berdamai. Mereka kini tak lagi menggidikkan bulunya jika didekati. Justru sekarang ketiganya lebih sering tidur di rumah kucing yang dibuat anak-anakku dari kardus karton.

Anak-anakku memberikan nama untuk ketiganya. Yang pertama, yang postur tubuhnya lebih besar dinamakan Theodore. Yang kedua, mirip dengan Theodore namun hanya berbeda pada rias di kepalanya yang berbentuk seperti huruf X. Karena itu ia dinamakan X. Sedangkan yang paling kecil, berwarna belang hitam putih, dengan mata seperti Zorro, dinamakan Plenyun.

Theodore lebih berani ketimbang X dan Plenyun. Ialah yang pertama kali mau berdamai dengan keluarga kami. Ia seperti kakak bagi kedua saudaranya. Theodore selalu membela X maupun Plenyun, jika ada kucing garong liar yang mau merebut jatah makanan mereka. Bagi X dan Plenyun -mungkin- Theodore adalah pelindungnya selain induknya sendiri. Theolah yang selalu berani menghadapi ancaman kucing garong yang usianya lebih tua. Jika kucing garong itu belom pergi, Theo tak akan berhenti meraung dan melengkungkan badannya. Ia harus memastikan X dan Plenyun - yang biasanya ngumpet di belakang Theo- merasa aman.

Theo (nama pendek Theodore) juga sering bercanda dengan kedua saudaranya. Biasanya setelah kenyang, mereka bertiga main kejar-kejaran ataupun bergulat. si X adalah yang sering memulai canda. Theo selalu melayani dengan perlawanan yang seimbang. Tapi kalau bergelut dengan Plenyun yang lebih kecil dan sering teriak-teriak kalau sedang bergulat, biasanya Theo langsung diam, atau langsung pura-pura kalah, seperti diam terkapar di sebelah Plenyun.

Soal makanan, seringkali Theo mengalah jika X dan Plenyun merebut jatahnya. Ia hanya duduk sambil memperhatikan saudaranya makan. Apapun yang dimakannya, jika X atau Plenyun meminta, pasti diberikan dan Theo seperti tersenyum memperhatikan.

Kalau kita insyafi, binatangpun punya kasih sayang terhadap sesama. Bisa melindungi dan menjamin keamanan dan kenyamanan saudaranya. Semoga saja kita bisa memetik hikmah dari sikap Theo. Semoga para presiden kita, para menteri, pejabat negara, anggota parlemen, pengusaha, dan semua petinggi negeri kita bisa belajar dari kisah ini. Mau berkasih sayang kepada rakyat jelata dan nelangsa. Semoga mereka punya nyali dan hati untuk meringankan biaya hidup rakyatnya. Terutama dari naiknya harga, terutama bagi mereka yang masih nestapa karena desanya jadi kubangan lumpur. Terutama bagi mereka yang takut dengan teror bom 3 kg. Terutama bagi mereka yang setiap hari terhimpit di busway, bis kota, KRL, dan kendaraan pepesan rakyat lainnya. Terutama… terutama… terutama…. ah terlalu banyak nestapa di negeri ini. Semoga kalian bisa lebih baik dari kucingku!

kucingku

Theodore, X, dan Plenyun

“Seliar apapun, makhluk itu masih bisa berubah sikap dengan pemenuhan cinta kasih. Ini berlaku bagi kucing. Apalagi bagi manusia…” - MT -


kucingkuIni kisah tentang tiga ekor kucingku. Lebih tepatnya sih, kucing peliharaan anak-anakku. Yang pertama Namanya Theodore. Berkulit belang kuning kecoklatan dan putih. Yang kedua bernama X. Diberinama X karena corak bulunya hampir sama dengan Theodore. Bedanya hanya corak kuning di kepalanya seperti membentuk huruf X. Jadilah ia dinamakan X. Sedangkan yang paling kecil bernama Plenyun. Hitam-Putih bulunya menjadi pemikat siapapun yang melihatnya. Apalagi jika memperhatikan wajahnya yang imut, dengan corak hitam yang melingkari kedua matanya. Seperti Zorro. (more…)

Kucing

Tengah malam, pukul 00:36, seperti biasa, aku menulis di depan rumah. Udara setelah hujan reda membuat malam tambah dingin. Aku ingin menulis tentang topik yang diwawancarakan temanku di Jogja. Tapi batal.

Penyebabnya adalah kucing. Induk kucingku tidur di sebelah pahaku. Beralaskan keset dan bersandar pada pahaku, mungkin membuatnya hangat. Ketiga anaknya masih saja bercanda. Yang putih menerkam yang hitam. Yang putih-kuning ikut bersiaga menyerang. Merekapun saling serang dalam canda. Sepertinya mereka begitu berbahagia, saling mengejar, saling menerkam, tapi hanya bercanda.

Yang paling kecil, si Hitam lompat ke atas laptopku. Ia menciptakan jejak tulisan “jh34bna” (tanpa tanda kutip). Memang tak ada artinya dan tak penting. Tapi yang kulihat, ia amat bahagia. Iapun kuangkat dan kutidurkan di atas pangkuanku.

Kucing garong datang menjemput sang induk yang terbangun. Mungkin ia adalah ayah ketiga anak kucing yang lucu-lucu ini. Mereka berdua pergi meninggalkanku. Mungkin berkencan. si Putih dan Putih-Kuning masih bercanda. Si Hitam masih bermanja-manja di atas pangkuanku. tidur…

Kucing Dekil

Kucing dekil baru saja sampai
Di pojok pohon besar, tempat biasa bermalas-malasan
Sementara kawanan binatang lainnya asyik bercengkrama di sebelahnya
Kucing dekil duduk saja karena bukan bagian dari mereka

Seekor singa dari kawanan itu beranjak entah mau kemana
Melintasi kucing dekil di depannya
Kucing dekil tersenyum siap menyapa lembut sang singa sibuk
Tapi senyuman tak mendapatkan sapa

Kucing dekil kembali diam dalam khayalan
Sekelompok anak serigala mampir bertanya
Kucing dekil bicara apa adanya tentang siapa dirinya
Anak-anak serigala seraya beranjak meninggalkannya
Ternyata kucing dekil bukan hewan penting yang dicarinya

Mereka menuju kawanan elite binatang
Kucing dekil tersenyum, getir!

Cihideung – Banten, 23 Juli 2004