Kopi tanpa Paste dari Bali

Tulisan ini masih mengenai kopi. Dari tiga bungkus jenis kopi cinderamata dari Bali yang aku dan teman-teman terima, baru 1 yang kami review. Yang pertama kuulas adalah Kopi Bali Kintamani. Kopi Bali campur Jahe dan terakhir kopi Bali klasik yang dikemas dalam kotak kayu yang unik, belum sempat ternikmati. Nah, kali ini kopi dalam kotak kayu itulah yang akan ku-review.

Ketika kubuka kotaknya, agak terkejut juga. Ternyata isinya hanya secuil kopi berbungkus plastik. Dalam takaranku, paling kopi ini hanya bisa dipakai untuk 2 kali seduhan. Kalau begitu, kenapa kopi yang kemasannya menarik dan cukup besar hanya berisi secuil saja? Aku penasaran. Jangan-jangan rasanya memang mantap dan tak perlu takaran standar sebagaimana kopi default-ku dan teman-teman di Bogor : Kopi Cap Liong Bulan :D (more…)

Perbandingan Kopi Liong Bulan vs Kopi Luwak

luwak-jdcSehari-hari aku menikmati kopi Liong Bulan khas Bogor. Dibandingkan dengan merk kopi yang biasa diiklankan di televisi, kopi Liong Bulan tetap menjadi pilihan terbaik. Kemurnian bubuk kopinya lebih terasa.

Siang tadi dapat oleh-oleh dari teman, sebungkus Kopi Luwak. Penasaran juga, ingin merasakan kopi buatan daerah lain di Indonesia. Langsung saja kudidihkan air untuk dua gelas kopi. Kuajak seorang teman untuk sama-sama membandingkannya dengan kopi kami sehari-hari.

Seperti biasa, setelah air mendidih, seduh racikan 2 sendok teh Kopi Luwak dengan 3 sendok teh gula pasir. Diamkan 1-2 menit, lalu aduk hingga merasa cukup.

Dari warnanya, jelas sekali berbeda antara 2 jenis kopi yang kami bandingkan. Kopi Luwak terlihat lebih pekat.  Dari aromanya, jelas kami lebih hafal aroma Kopi Liong Bulan. Kopi Luwak yang kami sajikan tidak menebar aroma khas yang disukai para penikmat kopi.

Soal rasa, Kopi Luwak memang terasa nikmat. Ada kelezatan yang sulit dijelaskan. Memang berbeda rasanya dengan Kopi Liong Bulan. Temanku bilang, andai diseduhnya dengan gula aren, mungkin akan terasa lebih nikmat. Ya, kami memang belum terbiasa dengan Kopi Luwak. Belum tahu cara meracik yang membuat power Kopi Luwak ini terungkap sempurna.

Hasil akhirnya adalah : Kopi Luwak terasa lebih keras ketimbang Kopi Liong Bulan. Efek saat meminumnya pun terasa beda. Seolah zat yang terkandung dari Kopi Luwak langsung menjalar ke syaraf penikmat kopi. Mata terasa lebih terang. Lebih enteng saat dibarengi dengan membaca koran. Tetapi untuk tetap saja, karena sudah terbiasa dengan Kopi Liong Bulan, tentu kami memilihnya sebagai kopi harian. Sebab, selain harga Kopi Luwak yang amat mahal, ada satu keraguan untuk terus menikmatinya. Dengar-dengar, Kopi Luwak haram, karena asalnya dari kotoran Luwak. Tapi terlepas dari kontroversi soal halal-haram, ya lebih baik kami memilih yang jelas-jelas halal deh. Memilih sesuatu yang tidak meragukan.

Pindah Selera ke Kopi Liong Bulan

Sebelum menetap di Bogor, aku jarang minum kopi. Paling seminggu hanya 3 gelas saja. Itupun harus kopi bermerk yang rasa dan harganya cocok di lidahku.

Sempat juga aku pindah ke kopi yang dipasarkan secara MLM. Kopi yang digadang-gadang berkhasiat untuk stamina itu menjadi kopi wajib bagiku. Tapi setelah pindah ke Bogor di hari terakhir tahun 2008, aku mulai berpindah ke lain hati.

Kopi yang memikat seleraku adalah kopi yang dibuat oleh keluarga keturunan Tionghoa di Sukasari. Menurut literatur, wilayah itu merupakan pecinan-nya Bogor.

kemasan kopi+gula dalam bungkus plastik. kemasan kopi saja dalam bungkus kertas

kemasan kopi+gula dalam bungkus plastik. kemasan kopi saja dalam bungkus kertas

Kemasannya ada dua macam. Retro dan Modern. Namun kedua kemasan tersebut tidak membedakan rasanya yang nikmat. Kopi bergambar seekor naga sedang menyemburkan api ke bulan ini bertekstur kasar. Jika diseduh dengan air mendidih, tak ada satupun butiran kopi yang mengambang di permukaan gelas. Ini menandakan biji kopi pilihan tanpa campuran jagung atau apapun yang mengurangi cita rasa kopi.

Saran terbaik untuk penyajian adalah dengan menyeduhnya dengan air mendidih yang baru dimasak. Jangan langsung diaduk, tapi biarkan dulu kira-kira 3 menit agar kopinya matang. Itu merupakan cara yang lazim diketahui oleh para penikmat kopi.

Harganya? Dijamin murah. Anda yang biasa ngopi di cafe bergengsi dengan harga minimal 15 ribu/cangkir pasti akan terkejut jika mencicipi kopi seharga Rp.600,- sebungkus! Pada kopi ini ternyata harga tidak mempengaruhi cita rasa. Tetap lebih mantap ketimbang kopi mahal.